Berpikir-Menulis

Berpikir-Menulis
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek Korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek Korupsi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2015

Cicak dan Buaya Kanibal



Oleh: Danang Probotanoyo

 
sumber gambar: porosberita.com
      Bicak mengendap-endap. Sudah setengah jam ia mengincar nyamuk Aedes itu. Selama itu pula ia selalu gagal. Perutnya sudah terlalu lembek seharian tak terisi. Nyamuk itu sepertinya mulai kelelahan. Perutnya membuncit sarat beban darah golongan O. Sudah setengah jam ia terbang-menclok tanpa henti, menghindari Si Bicak. Kali ini Bicak tak mau gagal lagi. Bicak pun beringsut sedikit demi sedikit. Di depannya ada sebuah saklar yang begitu dekat dengan nyamuk itu. Ia mengintai dari balik saklar. Siip, dia tidak tahu aku sembunyi di sini. Pada hitungan ketiga aku harus meloncat dan menyergapnya. Satu, dua, dua setengah, tiga! Hup! Byur..! Saking keras dan semangat meloncat, Bicak kehilangan orientasi dan tak dapat menolak sang gravitasi. Bicak gelagapan karena terjatuh dari dinding dan masuk ke dalam tempayan air di bawah. Sang nyamuk pun berlalu penuh kemenangan. Sukurin deh lu! Emangnya enak nyilem disitu, ejeknya. Bicak megap-megap hampir kehabisan nafas, mencoba berenang untuk menjangkau tepian tempayan. Awas kau nanti, nyamuk sialan! Bicak berhasil mencapai “daratan” dengan lemas merayap naik ke dinding lagi. Aneh! air tempayan itu air ajaib! tubuhku menjadi enteng setelah masuk kedalamnya, gumam Bicak.

“Hahaha, dasar Cicak bodoh! Bukannya Kamu menjadi enteng, bodoh! Tapi knalpotmu      ketinggalan di tempayan itu! Seru Si Susya, Sang Buaya, “Lumayan, bisa untuk hidangan penutupku nanti.”

“Dasar makhluk rakus, bukan hanya yang besar-besar saja yang Kamu telan, buntutku yang tak seberapa pun kamu ada melek untuk memenuhi ususmu yang tak berujung itu, dasar serakah,” omel Bicak, “jangan harap kamu akan memperoleh apapun dariku, kadal primitif!”

Sekejap Bicak pun sudah berada di mulut tempayan itu, untuk mengambil buntutnya lagi dan dibawanya lari ke atas.

“Ambil saja kalau Kamu mau! Nih, ambil sendiri secara gratis, he,he,…,” kata Bicak, sambil meletakkan potongan buntutnya di atas talang air yang menempel di dinding. Bicak pun istirahat di atas talang itu, badannya teramat penat sehabis bekerja keras. Dalam kondisi setengah tidur, dia mendengar suara, meong, meong. Ah, berisik amat, nggak tahu orang, eh, cicak lagi istirahat begini, gumam Bicak, sambil matanya meredup. Tampak seekor kucing angora mendekati bibir kolam untuk minum. Susya menenggelamkan seluruh badannya ke dalam kolam.

“Ssst, ada makanan ekstra gratis!” bisik Susya kepada para koleganya di kolam itu.Yang lainnya pun ikut mengintai di belakang Susya. Mereka tak berani untuk melangkahi Susya, karena di kolam itu Susya paling senior dan paling besar tubuhnya. Dia sebagai pemimpin di kolam Buaya itu. 

Sambil menjulurkan lehernya, sang kucing menjilat-jilat air di tepian kolam. Dahaga membuatnya tak waspada ada bahaya yang sedang mengintai. Susya berenang dalam kesunyian lebih mendekat ke arah sang kucing. Nampak air kolam di sekitar dia berenang ada semburat air putih kental, yang berasal dari lelehan air liurnya yang deras keluar. Jarak tinggal sejengkal, dan, Hap! Susya berhasil mencaplok kucing itu. Si kucing meronta hebat. Air kolam berkecipak gaduh, diselingi suara meong,meong, yang perlahan semakin melemah dan akhirnya lenyap. Susya tampak puas dengan rejeki nomplok itu. Lidahnya tampak berkelamutan ke kiri-kanan membersihkan moncongnya. Hoik, sesekali ia bersendawa. Kolega Susya di kolam hanya terbengong mengelilingi Susya. Mereka hanya bisa menelan ludah karena Susya tak sedikitpun menyisakan daging kucing angora yang lezat itu. Tak ada protes, karena semua takut dan menaruh hormat pada seniornya itu.

“Awas! jangan sekali-kali ada yang buka suara tentang hal ini, atau kalian akan aku beri hukuman disiplin! Ingat, aku adalah senior kalian! Akulah raja di kolam ini!” ancam Susya kepada buaya yang lain.

            “Baik Susya, kami akan tutup mulut untuk ini,” kata mereka serempak.  

“Bagus, itu baru anak buah yang baik, jagalah kehormatan korps kita, korps buaya!” ujar Susya.

Tanpa disadari oleh mereka, ternyata ada saksi kunci yang menyaksikan pembantaian tadi. Bicak yang semula tidur menjadi terbangun mendengar kegaduhan dan erangan si kucing tadi. Dia menyesal karena tidak sempat memberi peringatan pada kucing itu. Nasi sudah menjadi bubur.

“Ck, ck, ck, dasar rakus, tak cukupkah bebek dan ayam yang diberikan Pak Boye setiap harinya untukmu, buaya rakus!” seru Bicak sambil berkacak pinggang di atas talang.

Kawanan buaya itu pun terperanjat. Bicak yang dikira sudah tertidur ternyata menyaksikan kejadian memilukan itu. 
Cerpen Karya: Danang Probotanoyo, Medio: 2010


“Dasar Cicak jelek, ngiri ya, ngiri ya?! Urus saja dirimu sendiri, jangan campuri urusan makhluk  lain,” hardik Susya.

“Tidak bisa! Ini sekarang sudah menjadi urusanku, buaya tamak, ketahuilah bahwa kucing yang kau telan tadi adalah milik Jelita, anak Tuan Bambang, pemilik kolam dan seluruh areal disini,” kata Bicak.

“Awas! kalau macam-macam kutelan bulat-bulat kamu nanti! Jangan pernah coba-coba dengan kami! Tidakkah kau lihat, kau mahluk kecil dan lemah tak akan bisa melawanku yang gede dan punya taring banyak,” Susya mencoba mengintimidasi.

“Lagian, kamu tidak mempunyai bukti apapun! He,he,” ejek Susya.

“Bagaimana dengan cap kaki kucing di lumpur tepi kolam dekat moncongmu itu? Ups, aku keceplosan,” sesal Bicak.

“Bagaimana dengan ini? He,he...,” ujar Susya sambil kaki depannya mengais-ngais  menghilangkan tapak kucing di atas lumpur itu.

“Jangan merasa menang dulu. Nanti kamu menyesal,” ujar Bicak.

Bicak tersenyum menyimpan kemenangan, dia melihat ada segenggam bulu kucing yang menyangkut di sulur tumbuhan air di tengah kolam itu. Yes! matilah kamu nanti buaya jahat. Bicak pun melanjutkan istirahatnya.

Pus, pus, pus.., dimana kamu, pus? terdengar seorang lelaki setengah tua memanggil-manggil dari kejauhan. Lama-lama suaranya semakin keras mendekat ke kolam. Bicak terbangun karena teriakan lelaki itu.

“Sebentar lagi tamat riwayatmu Susya!  Pak Boye datang kemari,” seru Bicak.

“Alah, seperti kataku tadi, yang penting bukti! Kesaksianmu tak akan laku! Hukum pada manusia lebih mementingkan bukti daripada saksi, he,he,” Susya terkekeh.

“Nanti aku bisa memberi bukti kepada Pak Kohir, bahwa kau telah menelan Kucing itu, lihat saja nanti,” tukas Bicak.

“Apakah ini yang kamu maksudkan dengan bukti itu, he, he,” ejek Susya, sambil memegang sekepalan bulu kucing yang tadi nyangkut di sulur tanaman.

“Lihat dengan mata sipitmu itu! Sebentar lagi satu-satunya bukti yang tersisa akan lenyap, he,he..,” Dan, hup, Susya menelan bulu-bulu itu.

“Bagaimana cicak? Ternyata kamu tak lebih pintar daripada aku, kan? He, he.”

“Sekarang kamu merasa menang, tapi percayalah, kejahatan tidak akan pernah menang selama bumi masih berputar! Tidak ada kejahatan yang sempurna!” Bicak mengingatkan.

“Ah, suka-suka kamu lah. Yang penting aku menang, titik!”

Pak Boye masih mencari kucing itu di luar tembok pagar kolam. Seperti biasa, Bicak sesekali turun ke bibir tempayan air untuk minum. Apalagi mulutnya kering setelah berdebat dengan Susya. Ketika dia turun ke bagian dalam tempayan, tanpa disadarinya bahaya sedang mengintai. Susya yang telah mengawasi Bicak sejak tadi, diam-diam merayap naik ke darat. Bicak melihat,   siap meloloskan diri. Terlambat, dia kalah cepat. Dengan sigap Susya menerjang tempayan itu hingga terbalik dan tertelungkup. Bicak terperangkap dalam tempayan yang terbalik. Dia gelagapan dalam kegelapan.

“Hooey, keluarkan aku! Apa salahku kepadamu?” teriak Bicak dari dalam tempayan.

“Seperti aku bilang tadi, kamu mahluk kecil dan lemah, jangan sekali-kali melawan kami para Buaya yang perkasa ini! Ha, ha, rasakan, kau berhasil aku perdaya dan aku jebak. Meringkuklah di dalam situ,” kata Susya sambil terkekeh. Susya kembali ke air, sedang Bicak terkurung dalam tempayan.

Tidak berapa lama kemudian Pak Boye telah sampai di tempat itu. Sambil mencari-cari kucing itu disana. Pus, pus, pus.

“Hey, para buaya, apakah kalian melihat ada seekor Kucing kemari?” tanya Pak Boye.

“Sedari tadi tak ada satu mahluk selain kami yang ada di sini,” jawab Susya sambil memberi isyarat kepada teman-teman buayanya.

“Ya, benar. Sejak tadi hanya ada kami disini,” seru para buaya kompak.

“Baiklah kalau begitu,” kata Pak Boye sambil berlalu dari situ.

Dari celah sempit, bibir tempayan yang sedikit cuil, Bicak menyaksikan kemenangan Susya dan kawan-kawan. Sebenarnya Bicak sudah berteriak-teriak kapada Pak Boye, tapi suaranya terlampau pelan dari dalam tempayan. Dasar para buaya licik! gerutu Bicak dari dalam.

Dua jam setelah itu datanglah rombongan Pak Boye, Tuan Bambang dan beberapa lelaki lainnya. Mereka melihat semua buaya yang ada di kolam itu. Dihitungnya satu persatu.

“Pak Boye, kali ini siapa yang layak kita ambil,” kata Tuan Bambang.

Sejenak Pak Boye menyapukan pandangannya ke arah semua buaya yang ada di kolam.

“Itu, yang disana itu, Tuan, dia buaya paling besar dan paling senior di kolam ini,” seru Pak Boye.

Ya, akulah yang paling besar, paling kuat dan paling senior disini, pilihan kalian tak salah. Gumam Susya dalam hati.

“Lihat cicak malang, akulah yang dipilih mereka untuk menerima penghargaan itu,” ujar Susya dengan penuh kesombongan.

“Ya, dipilih, diambil dan tak pernah kembali lagi kesini,” desis Bicak dari dalam tempayan.

“Janganlah kau ngiri terhadapku! Seperti yang sudah-sudah, buaya-buaya itu tak ingin kembali lagi kesini, karena terlalu menyenangkan di tempat yang baru,” ejek Susya.

“Itu kan maumu. Aku lebih tahu dari kamu,” jawab Bicak kalem.

Susya pun digiring naik ke dalam pick up, menuju tempat yang menyenangkan menurut pikirannya sendiri. Susya dibawa ke satu gedung tua tak jauh dari tempat itu. Sayang, Susya tidak bisa membaca tulisan di depan pintu gedung itu, yang berbunyi “Bangsal Penyembelihan dan Pengulitan Buaya”. Pick up masuk gedung. Dan, setengah jam kemudian terdengar dengusan nafas terakhir seekor buaya. Hening untuk beberapa saat, sampai terdengar teriakan kencang dari Tuan Bambang,” Bangsat! Buaya jelek ini telah memakannya!”

“Boye, buaya sialan ini telah memakan kucing anakku! Aku tak sudi memakai dagingnya untuk restoran sate buaya milikku! najiiiiis!” Tuan Bambang marah besar.

“Cepat ambil kulitnya, dan cincang-cincang dagingnya menjadi kecil-kecil! Setelah itu bawa serpihan dagingnya kembali ke kolam! Biar tahu rasa dia.”

“Baik Tuan.”

Setengah jam kemudian Pak Boye kembali ke kolam buaya itu. Dibantu dua orang membawa beberapa ember daging untuk para buaya. Kemudian daging dalam ember-ember tersebut di sebar ke kolam dan dijadikan rebutan para buaya. Tak berapa lama seluruh daging habis disantap.

“Daging apa ini, Pak Boye? Kok, rasanya keras dan agak pahit? Tumben bukan ayam atau bebek yang kau lemparkan kepada kami,” tanya seekor dari mereka.

“Walau rasanya agak nggak enak, tapi kalian suka kan?” sindir Pak Boye.

“Iya, walau tak seenak ayam dan bebek, tapi sangat mengenyangkan.Itu sudah cukup bagi kami, terima kasih ya, Pak,” jawab buaya tadi.

Sambil membalik tempayan tempat Bicak tersekap, Pak Boye berujar,

“Ketahuilah buaya-buaya bodoh, yang kalian makan tadi adalah senior kalian tadi. Tuan Bambang tak sudi menjadikan buaya terkutuk itu menjadi hidangan tamu restorannya, karena dalam lambungnya ada kucing milik Nona Jelita.”

Hoek, hoek, hoek! Mendadak terjadi muntah masal di kolam itu.

Bicak tertawa terpingkal-pingkal. Sekarang dia bebas. Dan yang lebih penting lagi, buaya sombong, musuhnya, yang telah memerangkapnya dalam tempayan, sekarang gantian di perangkap dalam perut para buaya lainnya. Danang Probotanoyo-2010

Sabtu, 29 Maret 2014

Korupsi Hati



Oleh : Danang Probotanoyo
Cerpenku Termuat di "Inilah Koran" (Bandung), Medio: Maret 2014
      Mungkin Ibuku dulu nyidam cabe rawit: hijau dan membakar.  Bisa pula keseringan makan kacang koro, yang bila terkunyah oleh geliginya bak roda stoomwals  beradu dengan bebatuan di jalan pada proyek pengaspalan.  Jangan tanya prestasiku di kampus! Mendapat nilai B apalagi A adalah anugrah bagiku. Maklum, aku jarang tepekur duduk di ruang kuliah mendengarkan dosen ceramah. Predikat aktivis, membuatku lebih sering berorasi daripada mendengarkan dosen berteori. “Ah, semua dosen dan para pengamat di media hanya berwacana saja, kapan mereka melakukan aksi nyata untuk merubah keadaan?” gerutuku selalu. Digelandang aparat lalu diinterogasi dan intimidasi adalah ujian mentalku. Benjol di kepala dan memar sukujur badan terkena pentungan polisi, kuanggap latihan ketahanan fisik. Pedih dimata akibat hujan gas air mata aparat, merupakan wujud empatiku, sebagai pengganti gelombang air mata kepedihan hidup, rakyat negeri ini. Jelas, aku bukanlah mahasiswa ideal, karena tidak pernah kenal indeks prestasi yang fenomenal. Bagiku, kemampuan mengartikulasi apa yang dimaui rakyat dalam tiap aksi demonstrasi merupakan nilai tersendiri. Aku senang dan bangga menjadi demonstran. Kelak, bila kampus tidak mengeluarkan surat DO, dan aku bisa lulus walau dengan nilai pas-pasan, aku ingin tetap berjuang, mengabdi jadi aktivis LSM. Mengapa tidak menjadi anggota parlemen sekalian? Kan, mereka juga memperjuangkan aspirasi rakyat, dibayar mahal pula. Begitulah seloroh teman-teman kepadaku.  Parlemen? Adakah orang parlemen di negeri ini yang sarat dengan idealisme untuk memperjuangkan rakyat? Parlemen terlalu pragmatis! Mereka lebih mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Itulah salah satu kekukuhanku. Terkadang memunculkan salut dan simpati, namun tak sedikit yang mengejek dan anti. Terserah orang mau bilang apa, yang penting aku tidak sendiri. Aku bersama rakyat! Aku adalah penyambung lidah rakyat sebagaimana Bung Karno!  

Tibalah saatnya kala teman-teman melihat dan mengatakan “aku berubah.” Apanya yang berubah? Aku masih menyimpan bara! Ya, tapi bara yang sudah ditinggalkan Sang Bayu, hanya berkedipan dan sungkan menyemburkan jilatan api kemarahan lagi, sanggah mereka. Terkadang  omongan mereka hal diriku ada sedikit benarnya. Aku bak megaphone yang sudah lowbat, tidak sekencang dulu ketika berteriak: Turunkan BBM! Gantung Koruptor! Hidup rakyat! Hidup mahasiswa! Lawan! dan seabreg kalimat-kalimat heroik lainnya, khas aktivis.

Sekarang, keberpihakanku yang teramat dalam justru kutujukan ke Erna, mahasiswi Fakultas Psikologi. Awalnya, aku turut membela dan bersimpati terhadap unjuk rasa yang dilakukan rekan-rekan mahasiswa Fakultas Psikologi. Mereka menolak biaya ekstra di fakultas itu. Demonstrasi di siang yang menyengat itu, membuatku mencari penawar dahaga. Itulah awal perjumpaanku dengan Erna di kantin fakultasnya. Aku mengenal Erna tanpa sengaja. Kalau cuma teman mahasiswi yang cantik, sudah banyak kumiliki. Namun, Erna lain dimataku. Dia spesial banget! Klise memang, kalau aku mengumbar puja-puji.

Berkat Erna, aku mulai sedikit berubah. Dari mulai seringnya aku hadir di ruang kuliah, hingga   absenku pada beberapa aksi unjuk rasa di boulevard kampus. Rekan-rekan aktivis mulai jengah. Kusampaikan ke mereka bahwa aku sedang mengejar ketertinggalan akademis. Lucu juga, padahal semua tahu, dulunya aku tak  peduli perkuliahan. Yang penting IP tidak kurang dari dua koma nol, cukuplah. Sekarang aku berubah, aku sangat peduli kuliah. Semua karena Erna. Teman-teman yang tak suka berpolitik sangat mendukungku kembali ke ruang kuliah. Hal yang bertolak belakang kudapat dari teman-teman aktivis. Beberapa diantara mereka dengan kejam  memberi stempel “aktivis insyaf” kepadaku. Ini ironis, ada teman yang mendekat sekaligus ada yang menjauhiku. Aku tak peduli, yang penting kepedulianku terhadap Erna tidak berkurang, bahkan bertumbuh dari waktu ke waktu. Cintaku sedang berkecambah, perlu kusiram dan kupupuk terus. Kepada beberapa rekan aktivis yang masih menyambangiku, aku hanya bisa membesarkan hati mereka.


           “Tenang kawan, aku belum berubah! Kalau, toh, sekarang aku jarang terlibat dalam aksi,   

            setidaknya aku mendukung kalian secara moral.”

            “Tapi, bagaimana dengan ucapanmu dulu? Kamu sering berujar: jika melihat                 

             kesewenangan mesti kita lawan dengan tangan, jika tak bisa dengan tangan dengan  

             mulut, jika tak bisa dengan mulut dengan hati, namun bukankah itu selemah-lemah   

             perlawanan,” sindir kawan-kawanku.

             “Ada saatnya kita bicara dan ada saatnya kita diam, ada saatnya kita konfrontasi ada   

             saatnya kita negosiasi dan kompromi,” aku membela diri.

            “Mana ada idealisme perjuangan dinegosiasikan apalagi dikompromikan!” sergah  

             mereka.

Aku terdiam dan terpojok.

Kehadiran Erna dalam diriku berbarengan dengan masalah keluarga yang tengah kuhadapi. Sebagai mahasiswa perantauan, aku sepenuhnya tergantung  kiriman dana orang tua. Aku bukan anak orang kaya. Bapakku hanya  pengawas di satu perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Ibuku tidak bekerja, adikku pun berjumlah tiga.

           “Bud, sebaiknya kamu kuliah di Jawa! Bagaimanapun, kualitas pendidikan disana  

            lebih bagus. Apapun  kami lakukan agar kelak kamu menjadi orang sukses dan bisa  

            membantu adik-adikmu,” begitu pesan kedua orang tuaku.

Semua berjalan lancar-lancar saja, kecuali kuliahku yang terbengkalai karena aku menjadi aktivis. Sampai suatu ketika, datanglah kabar buruk dari Sumatera: bapak di PHK! Dunia serasa gelap. Kelanjutan studiku terancam. Di saat kritis itulah muncul Erna mengisi hari-hariku. Studiku yang semula  akan kandas di tengah jalan, bisa berjalan normal lagi. Bukan karena aku memanfaatkan kesempatan dengan hadirnya Erna, namun semua itu semata-mata kebaikan Om Bambang, papanya Erna. Menjadi pejabat di satu instansi negeri, Om Bambang secara status dan ekonomi bisa diandalkan. Apalagi anaknya cuma satu, ya, Erna itu. Aku tidak meminta, Om Bambanglah yang bersimpati kepada nasibku. Mungkin karena melihat kesungguhanku terhadap  Erna. Atau barangkali Erna-lah yang merengek ke papanya karena tak mau kehilangan aku. Entahlah, yang jelas segala biaya hidup dan kuliahku, Om Bambang yang menanggungnya sekarang ini.  Dilematik bagiku: tetap menjadi orang kritis namun mesti pulang ke Sumatera sebagai orang gagal; atau tetap ingin mewujudkan cita-cita kedua orangtuaku,  menjadi orang sukses dan kelak bisa  membantu keluarga.

          “Bud,  alangkah baiknya bila kamu sekarang lebih konsentrasi kepada kuliah saja. Aku

          dulu juga pernah kuliah dan tahu persis nasib teman-temanku  yang  menghabiskan waktu  

          studinya sia-sia. Mereka memang gigih memperjuangkan nasib rakyat dan terlalu banyak       

           mikirin negara. Namun mereka justru melupakan nasibnya  sendiri. Banyak diantara

           mereka yang di DO oleh kampusnya. Atau  kalaupun lulus dengan prestasi yang sangat

           pas-pasan dan susah untuk mendapat pekerjaan.” Itulah persuasi yang terus didengungkan

           Om Bambang kepadaku.

Aku terjepit dan tersudut. Bayangan keinginan kuat untuk membantu keluargaku kelak, bersinergi dengan kebaikan Erna dan papanya, meruntuhkan apa yang aku yakini selama ini. Pelan namun pasti, pengaruh Om Bambang semakin mendalam. Aku sudah kehilangan jati diri.  Om Bambang menumpukiku dengan budinya. Subsidi untuk kuliahku mengalami peningkatan. Banyak fasilitas kudapatkan dari Om Bambang. Sebuah Blackberry, laptop dengan spec aduhai serta sebuah motor matic diberikannya untukku. Aku tak ingin  mengecewakan Om Bambang dan Erna. Kedua orang tuaku semula tak setuju dengan semua itu.

             “Om Bambang tulus menolongku. Beliau tak banyak menuntut. Aku hanya   

             disuruh bersungguh-sungguh dalam studi. Bila kutampik, studiku bakal hancur dan aku              

             pulang kampung. Lagian, aku tidak ingin kehilangan Erna.” kataku kepada Bapak-Ibu.  Mereka akhirnya pasrah saja. Hari-hari berlalu seperti biasa. Kuliah dan kebersamaan dengan Erna menjadi rutinitas baruku. Dari seorang Soe Hok Gie pelan-pelan menjadi Romi dan Juli,”  itulah ledekan yang kuterima.

Sampai pada suatu ketika aku mulai menyadari ada yang tidak wajar. Perlahan tapi pasti segala, aset Om Bambang meningkat pesat. Tanah ada dimana-mana, begitupun rumah. Di garasi rumahnya berjejalan tiga mobil mewah. Pun, Tante Bambang sekarang ini punya hobby shooping ke Singapura setiap bulan. Motor matic pemberian Om Bambang telah mangkrak pula.  Sekarang kemana-mana aku dan Erna mengendarai Honda City terkini. Aku mulai curiga, jangan-jangan Om Bambang…, ah, aku tak sampai hati berpikiran jelek kepada mereka. Positive thinking, itulah kata-kata yang sering kudengar dari mulut Erna. Dia kan calon psikolog.

Pagi itu, ketika aku masih enak-enakan tidur, mendadak Agung teman satu kostku mengetuk pintu kamarku  cukup keras.

          “Bud, buka pintu! Bud, cepat! ada sesuatu yang penting.”

          “Ada apa? Aku masih ngantuk, semalaman habis ngerjain paper, nih.”

          “Cepat buka pintu! Ini menyangkut kamu dan Erna.”    

Akupun bergegas keluar kamar dengan masih menahan kantuk.

           “Yang bener?! ini menyangkut aku dan Erna?”

            “Nih, baca sendiri!”

Agung menyodorkan sebuah koran lokal kepadaku.

           “Bukankah Drs. Bambang Mulyono, M.M, Kepala Dinas Pendapatan Daerah, itu Om    

            Bambang bokapnya Erna?”  kata Agung.

            “Benar Gung, itu Om Bambang.”

Akupun membaca koran yang disodorkan Agung. Jeder! bak disambar petir, akupun lunglai. Drs. Bambang Mulyono, M.M, Kepala Dinas Pendapatan Daerah, semalam ditahan Kejaksaan Negeri. Tersangka ditahan karena diduga kuat melakukan tindak pidana korupsi dana APBD senilai lima puluh milyar rupiah.” Begitulah isi sebagian berita. Dengan gugup kuhubungi Erna yang sudah tiga hari ini menemani mamanya ke Jakarta untuk sebuah keperluan.

          “Benar, semalam papa sudah ngasih kabar ke kami, bahwa beliau dijemput pihak  

          Kejaksaan untuk ditahan. Sebelumnya Mama dan aku memang sudah diberitahu papa  

          kemungkinan tersebut. Seminggu yang lalu surat ijin pemeriksaan dari bupati sudah

          turun,”  kata Erna sesengukan diseberang telpon.

           “Mengapa kamu menyembunyikan itu semua dariku?”

           “Sungguh, Bud, aku malu terhadap  semua, terutama Kamu. Aku nggak tahu mesti  

            berbuat apa. Lalu Mama mengajakku untuk sementara waktu meminta pertimbangan Opa  

            di Jakarta.”   

Langit serasa mau runtuh. Aku seolah sedang menuju  lorong yang gelap yang tak ada terang di ujungnya. Aku harus menerima ini sebagai kenyataan. Aku tidak boleh meninggalkan Erna, tidak akan.

Pagi itu, sebulan setelah Om Bambang di tahan, kucegat angkot di jalan depan kos-kosan. Sudah sebulanan ini aku menanggalkan dan mengembalikan semua barang-barang pemberian Erna dan keluarganya. Aku malu menerima dan memakai semuanya, yang ternyata dari hasil korupsi. Sampailah angkot di depan Gedung Pengadilan Negeri. Hari itu aku mendampingi Erna untuk menghadiri sidang perdana Om Bambang. Dibanding keluarga besar Om Bambang yang ada disitu, sebenarnya akulah yang paling hancur.  Aku merasa sebagai orang paling nista dibanding sang terdakwa sendiri. Dari jendela luar ruang sidang, rekan-rekan aktivisku dulu, menyoraki dan mengacung-acungkan spanduk : Ganyang Koruptor! Namun yang lebih mengenaskan, mereka juga menyoraki aku sebagai pengkhianat rakyat! Mereka anggap aku antek koruptor yang  ikut menikmati duit haram hasil merampok uang rakyat. Kakiku serasa tak menjejak tanah, jiwaku seolah telah pergi meninggalkan ragaku di kursi pengunjung ruang sidang itu. Aku serasa telah mati.