Berpikir-Menulis

Berpikir-Menulis
Tampilkan postingan dengan label Event Budaya dan Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event Budaya dan Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2014

'Melukis Surga" di sindonews.com


Dunia sastra sedang alami kemunduran
Ratih Keswara
Jum'at,  4 April 2014  −  01:38 WIB


Sindonews.com - Dunia sastra dan literasi Universitas Gajah Mada (UGM) saat ini dinilai tengah memasuki masa stagnasi bahkan kemunduran. Tak hanya dari sisi kualitas, kuantitas karya sastra di UGM juga sangat menurun.   


"Kemunduran dunia sastra dan literasi UGM ditandai dengan absennya tokoh-tokoh yang dipergitungkan secara global," kata Yanto, salah satu pegiat sastra di Kampung UGM, Yogyakarta, Kamis 3 April 2014.

Menurutnya, begitu pula dari sisi kuantitas, karya sastra yang dihasilkan masih sangat minim. Terkadang masih ditemukan karya penulis muda, tetapi tak lebih dari sebuah upaya sporadis individu. 

Yanto menuturkan, kehadiran Kampung UGM sendiri selama ini bertujuan ingin mencoba menginisiasi kembali lahirnya karya serta insan sastra UGM.

Kampung UGM merupakan sebuah komunitas penulis muda sastra di UGM. Melalui kesempatan menulis yang diberikan, pihaknya berharap makin banyak muncul sastrawan muda yang berbakat dan mampu mentransfer pemikirannya melalui karya sastra.
 

"Penulisan kumpulan cerpen Melukis Surga ini sebenarnya masih jauh dari capaian kategori sebuah adi karya. Tapi setidaknya kami ingin menghidupkan spirit bersastra yang sudah sekian lama seakan meredup di kampus UGM," imbuhnya.

Beberapa penulis "Melukis Surga" (saya nomor 4 dari kiri)

Dalam upaya menghidupkan kembali spirit bersastra yang mulai meredup di kalangan kampus, 24 penulis muda yang tergabung dalam Kampung UGM mencoba menghadirikan buku berjudul 'Melukis Surga'. Buku tersebut berisi kisah-kisah kehidupan fiksi, namun kejadian di dalamnya dekat dengan kehidupan masyarakat kita.

Dalam kesempatan yang sama, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM Prof Faruk MT menuturkan, akademisi atau masyarakat akademik juga merupakan makhluk sosial dan historis yang terikat oleh ruang dan waktu. Hal ini pula yang menuntut seorang akademisi seharusnya mampu hidup dalam dua dunia.

"Kemampuan hidup dua dunia tersebut bertujuan agar kegiatan akademik dari para akademisi ini tidaklah formalistik dan kehilangan nilai kemanusiaannya. Karena sebenarnya mereka hidup dan bekerja di dunia yang tidak benar-benar akademik dan tidak pula berbentuk abstrak," ujarnya.


Link: http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/04/15/850472/dunia-sastra-sedang-alami-kemunduran

"Melukis Surga" di antaranews.com


"Melukis Surga" diharapkan semarakkan penulisan sastra kampus
Kamis, 3 April 2014 21:37 WIB
Oleh Bambang Sutopo Hadi

Jogja (Antara Jogja) - Buku kumpulan cerita pendek berjudul "Melukis Surga" yang ditulis 24 alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta diharapkan dapat menyemarakkan penulisan karya sastra di lingkungan kampus.

"Untuk itu buku kumpulan cerita pendek (cerpen) karya 24 penulis yang tergabung dalam Komunitas Kampung UGM di dunia maya itu sengaja diterbitkan," kata pegiat Komunitas Kampung UGM Munasir Sastro Suwito di Yogyakarta, Kamis.

Pada peluncuran buku kumpulan cerpen "Melukis Surga", ia mengatakan para penulis sepakat hasil penjualan buku tersebut sepenuhnya digunakan untuk kegiatan sosial.

"Pendanaan buku tersebut dari kami pribadi. Hasil penjualan buku kumpulan cerpen itu seluruhnya akan digunakan untuk kegiatan sosial," kata Munasir yang juga salah seorang penulis dalam buku "Melukis Surga".

Penulis lainnya Micha Adiatma mengatakan proses penulisan buku itu memakan waktu sekitar 2-3 bulan mulai dari pengumpulan naskah sampai dengan penerbitan.

"Melalui `Melukis Surga`, saya ingin menjelaskan bahwa anak-anak tidak pantas dikorbankan atas nama fanatisme buta," katanya.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM Faruk HT mengatakan para penulis yang sebelumnya bergelut dalam dunia akademik ternyata mampu berpikir secara abstrak sesuai dengan pola dan kaidah umum.

"Melalui sastra, mereka bisa berbicara dalam bahasa yang nyata, konkret dari kehidupan sehari-hari. Penggunaan tokoh utama anak-anak dapat menarik pembaca pada pengalaman," katanya. 
Beberapa Penulis "Melukis Surga" (saya nomor 4 dari kiri)


Menurut dia, para penulis juga cukup cerdas menawarkan pergerakan generalisasi dalam kisah Maria, tokoh utamanya. Kecerdasan para penulis itu patut diapresiasi.

"Cerpen itu tidak ingin pembaca hanya melihat nasib Maria secara partikular, tetapi kisahnya merujuk pada pada pengertian yang lebih umum," katanya.

(B015)
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © 2014

"Melukis Surga" di okezone.com




Ketika Akademisi Berpikir Abstrak dan "Melukis Surga"


Sabtu, 05 April 2014 10:08 wib | Margaret Puspitarini - Okezone

JAKARTA - Banyak kesuksesan besar yang dimulai dari sebuah langkah kecil. Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Kampung Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang mencoba memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar lewat tulisan.   


Sebanyak 24 penulis yang tergabung dalam anggota komunitas kampung UGM di dunia maya itu meluncurkan antologi cerpen Melukis Surga. Buku kumpulan cerpen yang ditulis para alumni UGM ini sengaja diterbitkan untuk menyemarakkan penulisan karya sastra di lingkungan kampus. 

"Pendanaan buku ini dari kami pribadi, untuk hasil penjualannya, seluruhnya akan digunakan untuk kegiatan sosial," ungkap salah seorang anggota Kampung UGM Munasir Sastro Suwito, seperti dilansir UGM, Sabtu (5/4/2014).

Munasir menyatakan, penulisan buku kumpulan cerpen itu berawal dari ide gagasan dari anggota komunitas yang akhirnya direspons dengan serius. "Padahal, saya sudah lama tidak menulis sastra, terakhir waktu SMP saya aktif menulis," paparnya.

Penulis lainnya, Micha Adiatma mengaku senang dengan terbitnya buku tersebut. Dia menyatakan, proses penulisan buku itu memakan waktu sekira dua hingga tiga bulan, mulai dari pengumpulan naskah sampai penerbitan. 
Beberapa Penulis "Melukis Surga" (saya nomor 4 dari kiri)


"Melalui Melukis Surga, saya ingin menjelaskan bahwa anak-anak tidak pantas dikorbankan atas nama fanatisme buta," ujar Micha. 

Respons positif atas kehadiran buku tersebut datang dari Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Faruk H T. Dia tidak menyangka jika para penulis yang sebelumnya bergelut dalam dunia akademik, ternyata mampu berpikir secara abstrak, sesuai dengan pola dan kaidah umum. 

"Lewat sastra, mereka bisa berbicara dalam bahasa yang nyata, konkret dari kehidupan sehari-hari. Penggunaan tokoh anak-anak dalam cerita tersebut dapat menarik pembaca," kata Faruk. (rfa)

Link: http://kampus.okezone.com/read/2014/04/04/373/965516/ketika-akademisi-berpikir-abstrak-dan-melukis-surga

"Melukis Surga", Sebuah Press Release



    Oleh: Danang Probotanoyo
Bedah "Melukis Surga" oleh: Prof. Dr. Faruk H.T., Kampus UGM (3/4)
    Kedudukan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai universitas tertua sekaligus terbesar di tanah air, rasanya sangat wajar  bila UGM menjadi yang terdepan dan terbaik, tak terkecuali di ranah sastra dan literasi.

     Dari UGM pernah lahir nama-nama besar di jagad sastra dan literasi tanah air, seperti: W.S. Rendra, Umar Kayam. Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, Darmanto Jatman, Bakdi Soemanto, Ashadi Siregar, Emha Ainun Najib dan lain-lain. Setelah surutnya nama-nama besar tadi,  tersebab: meninggal dunia, umur yang menua atau tak aktif lagi; dunia sastra dan literasi UGM memasuki masa stagnasi bahkan kemunduran yang ditandai dengan absennya tokoh-tokoh yang diperhitungkan secara nasonal maupun global. Begitupun dari sisi kuantitas karya sastra yang dipublikasikan, sangatlah minim. Memang terkadang masih bisa ditemukan karya-karya dari para penulis dan sastrawan muda Gadjah Mada, tapi itu tak lebih dari sebuah upaya sporadis individu.
Lantai 2 Gedung Perpustakaan Pusat UGM

      Mengingat makin minimnya jumlah publikasi karya serta insan yang bergelut di dunia sastra masih bisa dihitung dengan jari, maka sekelompok alumni UGM yang terhimpun dalam grup Facebook “Kampung UGM” mencoba menginisiasi kembali lahirnya karya serta insan sastra  UGM. Digawangi beberapa alumni yang cukup populer di bidang sastra dan penulisan, seperti: Dewi Kharisma Michellia, Ramayda Akmal, Han Gagas, Sungging Raga, Danang Probotanoyo dkk, UGM mencoba tampil lagi di garda terdepan di ranah sastra dan literasi. Tak muluk-muluk, dalam upayanya yang pertama kali ini, “Kampung UGM” menghadirkan sebuah karya sederhana berupa kumpulan cerita pendek  yang bertajuk “Melukis Surga”. Langkah pertama ini masih jauh dari capaian untuk kategori sebuah “adi karya”. Tapi setidaknya “Kampung UGM” ingin menghidupkan spirit bersastra yang sekian lama seakan meredup dari Kampus UGM.
Sebagian Penulis "Melukis Surga" (Saya nomor empat dari kiri)

      Dengan menggandeng UPT Perpustakaan UGM sebagai kolaborator tunggalnya, “Kampung UGM” akan menyelenggarakan acara bedah buku sekaligus launching karya perdana yang dihasilkan. Acara yang akan dilangsungkan pada hari Kamis, tanggal 3 April 2014, sekitar pukul 08.00-11.30 akan menghadirkan pembedah buku yakni seorang pakar sastra dari Fakultas Ilmu Budaya UGM: Prof. Dr. Faruk H.T.

     Semoga spirit yang coba dinyalakan ini tak padam kembali, sehingga ke depannya  dunia sastra dan literasi dari Kampus UGM kembali bisa menjadi mercusuar yang menerangi sastra Ibu Pertiwi.