Berpikir-Menulis

Berpikir-Menulis

Selasa, 13 November 2012

PAHLAWAN TERSISA DI MAKAM TUA

Oleh: Danang Probotanoyo
Cerpen saya, termuat di REPUBLIKA, medio: November 2012
    Senja temaram menjemput malam. Kumaidi duduk di kursi rotan tua yang nyaris berbentuk bulat mirip telur ayam. Kursi dan meja pasangannya tersebut pemberian Pak Sudjono (almarhum), bekas komandan peleton di PETA tempat Kumaidi bergabung dulu. Kursi itu masih kokoh walau pliturannya nyaris tak berbekas. Hanya meja nakas pasangannya yang sudah kelihatan reyot. Itu pun diusahakan Kumaidi agar bisa lebih lama lagi masa pakainya dengan diperkuat beberapa paku pada siku-sikunya. Kursi dan meja itu dikirim sendiri oleh Pak Sudjono pada tahun 1978 sebagai hadiah sekaligus bentuk solidaritasnya terhadap kekurangberuntungan nasib Kumaidi, sebagai sesama expejuang kemerdekaan. Pak Sudjono sendiri mengakhiri pengabdiannya kepada republik sebagai pensiunan di pabrik gula terbesar di kota mereka. Kondisi kontras dialami Kumaidi yang hingga sekarang masih terus berjuang, berjuang dan berjuang. Bedanya hanya pada medannya. Pada dekade 40-an, Kumaidi berjuang di medan perang demi eksistensi republik. Setelah kemerdekaan hingga sekarang, perjuangan Kumaidi di medan kehidupan riil sehari-hari demi eksistensi perutnya dan perut Sutinah, istrinya.    
    Sedikit gemetaran – khas orang lanjut usia—kedua telapak tangan keriput Kumaidi perlahan-lahan memilin klobot yang di dalamnya menyembul tembakau. Setelah tergulung ala kadarnya, diambilnya korek gas murahan untuk menyulut. Sekejab Kumaidi pun larut dalam kepekatan asap dan bau “rokok klobot” yang menyengat bagai dupa yang biasa di temui di makam-makam tua di Jawa. Sesekali tangan kanannya meraih gelas berisi kopi pahit pekat sebagai selingan dalam ritual rutinnya setiap senja. Sruput, ah, nikmatnya. 
    “Pak, akan kemana kita esok hari, kalau para petugas tramtib dan kecamatan itu datang melakukan eksekusi.”
     Suara Sutinah membuyarkan keheningan dan keasyikan Kumaidi, ketika secara tiba-tiba sosok perempuan tua itu menyeruak dari dalam rumah ke teras, tempat Kumaidi bersemayam. Kumaidi menyedot klobotnya lebih dalam menyebabkan pipinya bertambah kempot. Sambil menghela nafas panjang, Kumaidi berujar, “Entahlah Bu, aku sendiri belum tahu.” Sruput, kopi yang tinggal separo pun dimasukkan sedikit ke tenggorokan.
“Anak, kita tak punya, saudara-saudara pun sudah pada tiada di kampung halaman,” ujar Kumaidi lirih dan sendu. Masih membekas di pikirannya kedatangan Pak Lurah pukul setengah empat sore tadi.
“Saya hanya bertugas menyampaikan surat pemberitahuan eksekusi kepada Pak Kum, Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Pak, karena pemerintah maunya begitu,” ujar Pak Lurah dengan sedikit tercekat, ketika menyampaikan surat eksekusi tanah dan rumah Kumaidi. Kedatangan Pak Lurah sore itu sudah untuk yang ke empat kalinya selama jangka waktu tiga bulan belakangan.
“Kalau untuk mempertahankan negeri ini dari cengkeraman Belanda dan Nipon aku bisa habis-habisan, sampai jiwa dan raga aku pertaruhkan,” ujar Kumaidi getir, sambil mengepalkan tangan dan memukulkannya pelan ke paha.
   “Kan, nggak lucu kalau aku harus mengangkat bambu runcing untuk mempertahankan secuil tanah dan gubug reot ini, padahal jelas-jelas ini tanah negara.”
    “Apalagi uang tali asih sebesar setengah juta telah kita terima sebulan lalu dan itupun telah habis buat nebus sepeda onthelku di pegadaian demi ngobati bronkitismu.”
    “Yang penting kita sudah selesai mengepak milik kita, jangan sampai ada yang tertinggal.”
“Bintang gerilya dan SK veteranku jangan sampai keselip, Bu. Itu satu-satunya kebanggaan milik kita, sekaligus penyambung hidup kita.”
“O, ya, Pak, apakah tunjangan veteran bulan ini telah kamu ambil di bank?” tanya Sutinah.
    “Ini simpan, tadi cuma aku kurangi buat beli mbako dan segelas es cincau di jalan, panas amat siang tadi, aku sampai seperti mau pingsan ngayuh sepeda.”  
***
sumber gambar: ada-akbar.com
     Tanpa terasa malam menggulung waktu. Namun, Kumaidi belum juga beranjak tidur. Lagi pula dalam kondisi dan situasi seperti yang sedang ia alami, apalah nikmatnya tidur apalagi leyeh-leyeh menikmati siaran televisi merek Grundig 14 inchi miliknya. Toh, TV tua itu telah dibungkus seprei oleh Sutinah dan dionggokkan di samping rumah beserta harta benda dekil lainnya. Kumaidi mondar-mandir di depan rumahnya. Dalam hitungan beberapa jam ke depan bakal diratakan dengan tanah oleh pihak berwenang lantaran berdiri di areal yang konon milik negara dan akan dijadikan “Jalur Hijau”. Itulah yang sering dilontarkan Pak Camat. Sesekali ia berjalan di bekas reruntuhan rumah para tetangga yang telah mereka tinggalkan sebulan lalu. Ada yang terpaksa pulang ke desa tempat asal mereka. Ada yang mencari kontrakan di gang-gang kumuh seputaran kota. Ada juga yang nekat pindah ke pinggir rel kereta api dan kolong jembatan layang. Sekarang di areal tersebut tersisa satu rumah reyot milik Kumaidi. Setelah mondar-mandir melihat situasi, Kumaidi pun duduk di atas dipan kayu tua di bawah Pohon Waru, di depan bekas rumah Mat Jumali, pedagang sate keliling. Dipan itu tidak dibawa yang empunya karena kondisinya memang rusak. Sewaktu tetangganya masih komplet tinggal di lingkungan tersebut, dipan itu difungsikan untuk sosialisasi dan bercengkrama antartetangga di waktu sore hingga malam. Sambil matanya nanar menatap hilir mudik kendaraan di kejauhan, tangan tuanya memegang rokok klobot kegemarannya. Tampak percikan api dikegelapan menyerupai kunang-kunang setiap kumaidi menyedot klobotnya. Kriet.. sejurus kemudian Kumaidi turun dari dipan. Kakinya meraba-raba tanah mencari sandal plastik merek Lily miliknya. Maklum, tempat itu gelap gulita karena sudah sebulan aliran listrik di daerah itu diputus. Listrik di rumah Kumaidi masih bisa menyala karena kreatifitas seorang mantan tetangganya yang “nyanthol” kabel PLN di pinggir jalan, tak jauh dari pemukiman Kumaidi. Si tetangga kasihan lantaran melihat pasangan lansia tersebut tinggal disitu sendirian tanpa penerangan sama sekali.
      Pelan-pelan Kumaidi membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci. Dilihatnya dengan penuh rasa sayang dan iba sang istri tengah pulas tidur di atas tikar tanpa dipan dan kasur. Pelan-pelan sepeda onthel tuanya dikeluarkan. Tanpa membangunkan sang istri, Kumaidi pun berlalu. Empat puluh menit mengayuh sepeda sampailah dia di pemakaman tua. Pemakaman itu tampak terawat dan berlampu neon disana-sini. Pohon Kamboja dan Sri Rejeki menyemarakkan kuburan tersebut. Ya, pemakaman asri tersebut adalah Taman Makam Pahlawan tempat bersemayamnya jasad para kolega Kumaidi, termasuk Pak Sudjono mantan komandan peletonnya di PETA. Dengan hati-hati Kumaidi menyandarkan sepeda tuanya di pintu masuk makam yang terbuat dari besi. Kakinya melangkah. Sesekali ia berdiri tegak semampunya sambil menyilangkan telapak tangan memberi hormat ke arah beberapa batu nisan. Dia berhenti dan duduk bersila di atas rerumputan makam dan tafakur di depan batu nisan Pak Sudjono. Sambil melelehkan air mata, ia terlihat komat-kamit seolah mengadu kepada mantan komandannya tersebut. Setengah jam kemudian, matanya melihat ke arah pojok makam tak jauh dari tempatnya bersila. Ada sinar harapan merona di wajah sepuhnya. Kumaidi melihat arloji dibawah keremangan lampu neon makam, dia pun bergegas meninggalkan makam tersebut.
“Ah, untung masih jam setengah dua belas malam, masih cukup waktu,” katanya dalam hati penuh kemisteriusan.
***
      Pukul setengah lima pagi, Sutinah dibangunkan.
“Ayo, Bu, lekas kita berkemas untuk pindahan. Aku tak ingin nantinya kita yang diusir petugas  dari tempat ini. Aku tidak ingin anak-anak muda tersebut menghardik kita.”
“Tapi, kita mau kemana, Pak? Apalagi sepagi ini.”
“Sudah, ikuti saja perintahku, tolong kau bantu angkat kardus besar ini ke atas boncengan sepeda. Dua buntalan taplak meja berisi barang-barang yang tak terlalu berat, nanti kamu tenteng di kanan-kiri.  Aku nanti yang menuntun sepeda dengan kardus besar ini.”
Sutinah pun menuruti kemauan sang suami.
     “Lho, kemana barang-barang yang lain, Pak? Kemana kayu-kayu tua, gedhek tua dan selembar tipleks yang kemarin sudah kita persiapkan di samping rumah.”
     “Semalam semuanya telah aku pidahkan ke calon tempat  kita yang baru.”
     “Hah, sendirian kamu pindahkan semuanya?”
     “Ya, pada siapa lagi mesti minta bantuan, lagian kan aku tinggal nuntun si onthel, dialah yang mengangkut semuanya.”
     Sutinah pun penuh tanda tanya besar dalam benaknya, perihal kemana dia akan diajak pindah oleh Kumaidi.
     “Ayo, lekas kita jalan, mumpung belum bayak orang yang melihat.”
     Sepasang lansia tangguh itupun berjalan perlahan secara beriringin. Kumaidi di depan sambil menuntun sepeda yang telah dibebani kardus besar, sedang Sutinah mengiringi di belakangnya sambil menenteng dua buntalan di kanan-kiri.
      Satu setengah jam, sampailah mereka di tempat yang dituju.
      “Ayo, masuk Bu, nggak usah bengong, kan sudah seringkali aku mengajakmu kemari.”
      “Tapi, ini kan makam, Pak, tempat Pak Sudjono, Pak Waluyo, Pak Hadi dan teman-teman  seperjuangan bapak lainnya di makamkan.”
      “Iya, ini satu-satunya tempat yang disediakan pemerintah untuk menghargai kita-kita yang dulu telah berjasa mengusir penjajah dari republik. Memang, ini disediakan untuk kita  setelah tak ada umur alias wafat, tapi apa salahnya jika kita menyesuaikan diri dulu disini barang sebentar, sampai ajal menjemput.”
      Mata tua Sutinah mulai meneteskan air mata, disekanya satu persatu buliran air matanya dengan ujung kebaya lusuhnya.
“Sudah, Bu, kita terima saja, apa yang diberikan negeri ini kepada kita, tak ada faedahnya kita menyumpahi terus anak-anak muda yang tak tahu balas budi atas pengorbanan kita dulu. Mereka sudah hidup di alam merdeka berhak untuk menikmatinya, kita ikhlas saja.”
      “Di sebelah mana kita nantinya akan tinggal, Pak?”
     “Itu, disebelah pojok, utara nisan Pak Sudjono, kayu-kayu, tripleks, gedhek dan barang-barang lainnya telah aku taruh disana. Nanti kita tinggal merakitnya jadi gubug sederhana. Tempatnya lumayan lapang. Ada kalau cuma tiga kali empat meter, tempatnya pun strategis karena dua sisinya sudah ada tembok pagar makam.”
    “Tapi, Pak, apakah nantinya kita tak di usir lagi dari sini.”
    “Ini hak kita, Bu, mau kita ambil sekarang apa nanti tak ada bedanya bagi orang lain, lagian teman-teman di sini sangat mendukung dan sangat senang  menerima kita sekarang.”
    “Siapa yang kau maksudkan teman-teman disini, Pak?”
    “Pak Sudjono cs-lah!” jawab Kumaidi tanpa beban.
   “Tapi, pak…”
   “Aku, tahu mereka sudah terbujur kaku disini. Semalam, waktu aku nyekar mereka dan mengadukan nasib kita, karena kelelahan aku tertidur sejenak dengan memeluk nisan Pak Sudjono. Dalam tidur sekejab itu aku bermimpi bertemu Pak Sudjono dan yang lainnya. Mereka sangat senang bertemu aku, dan menyuruh aku untuk tinggal disini. Bahkan,  mereka berjanji kepadaku tak akan rela bila ada yang berani mengusik kita disini.”
     Sepasang lansia itupun menangis sesenggukan sambil berpelukan erat satu sama lain. 
Catatan :
Klobot : Kulit Jagung kering
Nyekar : Tabur bunga ke makam

Minggu, 14 Oktober 2012

Wahai Pemimpin, Belajarlah dari Wayang!



Resensi Saya Termuat di KORAN JAKARTA, Oktober 2012


Judul Buku : 75 Pemimpin Wayang Inspiratif
Penulis : Wisnu Dewabrata
Penerbit : Crop Circle Corp
Terbit : 2012
Tebal : viii 146
ISBN : 978-602-98690-5-7
 
Pemimpin sekarang ini seolah-olah teralienasi dari rakyatnya. Di saat sebagian masyarakat masih dihimpit beban hidup, sebagian elite justru menunjukkan gaya hidup hedonis dengan menghambur-hamburkan uang rakyat. Mereka seakan-akan tak memiliki empati terhadap penderitaan rakyat. Banyak yang tanpa malu-malu menilap uang rakyat. Akibat kerakusan pemimpin yang tak amanah tersebut, kemelaratan rakyat tak kunjung terentaskan. Pemimpin yang korup sedikit pun tak memiliki rasa iba menyaksikan derita rakyat.
Kalimat klasik Th omas Hobbes, homo homini lupus (manusia itu serigala bagi manusia yang lain), tak pernah lekang. Mungkin ungkapan tersebut menggambarkan situasi hubungan antarmanusia dewasa ini. Ironisnya, tipe pemimpin yang teralienasi dari rakyat semakin hari semakin banyak. Sekarang terjadi krisis pemimpin yang jujur, bermoral, etis, dan penuh teladan. Kepedulian semakin tipis. Rakyat kere, DPR jalanjalan terus ke luar negeri. Elite sering mengklaim Indonesia ramah, tepo seliro, berbudaya tinggi, tapi mengapa belajar etika harus ke Yunani?
Negeri sendiri sangat berlimpah nilai-nilai etik dan moral yang bersumber dari kearifan lokal dan budaya sendiri. Salah satu contoh, bangsa ini memiliki seni budaya adiluhung, wayang. Di dalam cerita maupun profi l tokoh wayang, rakyat bisa mengambil saripati hikmah maupun keteladanan. Wayang adalah cermin realitas kehidupan manusia.
Tepat kiranya bila Wisnu Dewabrata menulis buku berjudul 75 Pemimpin Wayang Inspiratif yang mengajak para pembaca untuk mau belajar saripati kehidupan dari tokoh dan lakon wayang. Banyak nilai kepemimpinan yang bisa dipetik. Untuk generasi belia sekarang, wayang pun bisa dijadikan alternatif tontonan dan tuntunan dalam mencari sosok-sosok superhero. Gatotkaca tak kalah heroiknya dibanding Superman. Begitu pun Arjuna yang jago memanah sebagaimana Robin Hood. Bima pun tak kalah kuat dibanding Hulk. Tokoh-tokoh pewayangan itu seharusnya lebih lekat dengan akar budaya bangsa sendiri.
Wayang memberi contoh tokoh yang harus dipanuti dan dihindari. Misalnya, seorang pemimpin mesti merakyat seperti diteladankan Prabu Kresna Dwipayana. Meski raja agung, dia hidup ala begawan yang suka laku spiritual dan menyatu dengan rakyat. Penampilannya pun tak ubahnya seperti begawan (halaman 38). Kini, tokoh yang berintegritas pun semakin langka.
Sebaliknya, elite yang bersifat hipokrit kian merebak. Ketika kampanye untuk merebuat sebuah posisi eksekutif maupun legislatif, mereka kencang meneriakkan antikorupsi. Namun, setelah menjabat, mereka malah menggerogoti uang rakyat. Janji tinggal janji.
Banyak tokoh pewayangan yang mencontohkan keteguhan dalam memegang janji hingga ajal seperti Bhisma (halaman 40). Kian sulit pula menemukan sosok yang berani melawan arus dalam komunitas yang penuh penyimpangan. Yang ada malah berbagai konspirasi jahat.
Contohnya: korupsi berjamaah, dalam lingkup birokrasi dan DPR. Sekarang zaman edan, kalau tidak ikut ngedan tidak kebagian. Berbeda dengan Wibisana, adik Rahwana. Meskipun kakaknya raja kegelapan, sang adik tak terpengaruh sedikit pun. Wibisana berani tak populer di mata kerabatnya, bangsa denawa. Dia lantang berteriak, hak adalah hak, bathil itu bathil. Kelak kebahagiaan sejati didapat Wibisana. Sebaliknya, malapetaka menimpa saudara-saudaranya (halaman 143).
Begitu banyak hikmah, suri teladan, dan nilai-nilai kepemimpinan yang bisa didapat dari dunia pewayangan. Untuk belajar etika, moral dan budi pekerti tak perlu pergi jauh ke Yunani. Belajarlah dari tokoh-tokoh pewayangan untuk mengerti baik dan buruk, yang patut dan tak pantas. Semua itu dari nilai-nilai kearifan milik bangsa sendiri.


Senin, 17 September 2012

Koruptor Tekor (Koruptor "Ajaran")


Oleh: Danang Probotanoyo
Cerpen Saya, Termuat di Harian Joglosemar, Medio: September 2012

   Perjuangan Mulyono hampir memperlihatkan hasil. Bapak dan Emaknya sedang  berdiskusi  di ruang tengah. Yes, pikir Mulyono senang. Dua bulan tanpa lelah dan penuh kengototan, Mulyono membujuk mereka. Segala argumentasi sudah Mulyono sampaikan hampir tak bersisa. Perlawanan mereka mendekati titik akhir menjadi kemenangan Mulyono.
“Mul, kesini sebentar. Apakah Kamu sudah berpikir masak-masak tentang hal itu? Kamu yakin dengan pilihanmu itu?” Bapak memanggil dan langsung memberondong Mulyono dengan pertanyaan.
“Benar, ‘Lek Yanto bisa membantu? Jangan-jangan nanti Kamu tertipu, Mul,” timpal Emak.
“Seperti yang telah kusampaikan kepada Bapak dan Emak sejak kemarin-kemarin, tekadku sudah bulat. Aku ingin mengangkat martabat keluarga kita. Aku ingin maju dan berubah. Aku nggak ingin begini-begini saja. ‘Lek Yanto nggak mungkin menipu, terlalu besar resikonya buat hubungan persaudaraan kita, Mak,” Mulyono meyakinkan.
“Yanto mungkin enggak, bagaimana dengan teman-temannya yang dimintain tolong itu?” Emak menukas.
“Pasrah saja , Mak, Kita percayakan saja kepada ‘Lik Yanto.”
“Dahulu, menjadi petani adalah  mulia,  tapi, Kamu ada benarnya juga, Mul, jaman sekarang menjadi petani bukanlah suatu pilihan yang tepat, tapi suatu keterpaksaan. Lahan semakin menyempit karena banyak diincar orang kota untuk didirikan pabrik dan rumah. Anak-anak muda di desa menjadi lebih suka kerja menjadi buruh di pabrik itu daripada nggarap sawah yang kian menyempit. Lebih celaka, orang pintar suka memperberat beban Kita, para petani, dengan mempermainkan harga gabah dan pupuk. Sudah begitu, pemerintah malah ngimpor beras terus”, keluh Bapak.
“Kalau benar-benar sudah bulat tekadmu, nanti sore kalau Ahong jadi kemari lagi, terpaksa aku akan melepas sertifikat sawah yang tinggal satu-satunya. Ke depan sumber penghidupan kita nantinya tinggal dua Sapi, lima Kambing dan dua puluhan pohon kelapa di kebon belakang rumah. Itu sudah cukup buat Kami berdua”, kata Bapak.
“Pesanku, jaga dirimu baik-baik di tempat kerjamu itu,” sambung Emak.  


Singkat cerita, Mulyono sudah diterima sebagai pegawai negeri di salah satu instansi kabupaten tempat kelahirannya. Semua berkat jasa ‘Lek Yanto yang bekerja di bagian kepegawaian kabupaten itu. Sawah bapaknya seluas satu hektar hanya dihargai Ahong senilai Rp. 80 Juta. Pas sekali dengan tarif SK untuk pegawai negara yang dibeli Mulyono lewat ‘Lek Yanto. Orang tua Mulyono sudah tidak punya pilihan. Sawahnya sudah terjepit beberapa bangunan pabrik yang menghambat pengairannya. Belum lagi, secara diam-diam terjadi kongkalikong antara Ahong dengan ‘Lek Yanto. Tersudut akan kebutuhan uang untuk menjadikan anaknya sebagai pegawai negari di kota itu, menjadikan orang tua Mulyono tak bisa mengelak penawaran sawahnya dengan harga murah.
Mulyono merasa nyaman. Status baru sebagai pegawai negari dengan gaji sedang telah Ia dapatkan. Terkadang hatinya digelayuti kegundahan. Manakala melihat teman sekantor berperilaku tidak lumrah. Semula ia mencoba bertahan untuk tidak terbawa arus teman.  Dia tetap datang ke kantor paling pagi ketika Matahari belum meninggi. Dia pulang paling belakang ketika sore hari telah menjelang. Lama-lama Ia merasa sendiri dan tak tahan.
Ah, teman-teman tak disiplin pun tetap saja naik gaji dan golongan, ngapain juga aku mesti yang membuka pintu dan menutup pintu kantor setiap hari. Sesekali aku ingin santai juga seperti mereka. Pikir Mulyono yang mulai tergoda. Semenjak itu Mulyono pun berperilaku sama saja   dengan kawan-kawannya sekantor. Didikan orang tua dan pembawaan alami sebagai pemuda desa yang sarat dengan nilai-nilai kegigihan dan kerajinan dalam bekerja mulai Ia tanggalkan. Dimulai dari berangkat lebih lambat 15 menit, 30 menit, 60 menit, bahkan terkadang tak datang sama sekali. Sejauh ini tak ada teguran atau komplain yang disampaikan atasan kepadanya. Semua seragam, dari atasan sampai bawahan sama saja. Mulyono dan teman-teman termanjakan. Kerja tanpa beban, namun gaji dan golongan selalu ada harapan di tahun depan. Terkadang telinganya risih juga ketika di sembarang tempat orang ramai menggunjingkan : Huh, makan gaji buta! Atau umpatan yang lebih menyeramkan : Dasar tukang korupsi!
Siapa yang makan gaji buta?! Kami disini mbayar, kami disini berinvestasi, seperti yang lainnya, menanamkan sejumlah modal awal untuk mendapat laba setiap bulan, walau harus Kami akui hasilnya lebih tinggi dari pasaran. Kalian saja orang sirik! yang tak berkesempatan sebagaimana Kami. Aku juga bukan tukang korupsi, setidaknya hingga hari ini.  Kalau urusan waktu, sih, kami memang suka mencuri. Toh, hanya waktu, apa ruginya negara? Begitulah yang ada di benak Mulyono jika sedang jengah dengan suara sumbang masyarakat terhadap abdi negara.   
Sampai pada suatu saat, ketika masanya datang, Mulyono pun telah memiliki jabatan baru sebagai Kasie Pengadaan di kantornya itu.
“Mul, Kita ambil saja penawaran dari PT Patgulipat itu, memang sih mereka sedikit lebih mahal dibanding proposal dari perusahaan yang lain. Namun apa ruginya bagi Kita? mereka bisa memberi kita komisi, sedang yang lainnya tidak. Lumayan, lho, nanti Kamu aku jatah delapan puluh juta,” bisik Drs. Sugihartana, M.Si, atasan Mulyono di kantor itu.
Mulyono bimbang, dirinya belum punya pengalaman untuk itu. Namun, karena perasaan tak enak kepada atasan, dia pun goyah. Gila, nilai yang ditawarkan Pak Sugih, pas banget dengan modalku waktu masuk kesini. Impas! ah, benar-benar kebetulan yang ajaib! Dengan uang segitu aku bisa mengganti sawah Bapak dan Emak, walau dapatnya pasti jauh lebih kecil dibanding milik mereka yang dulu. Dengan begitu, pelan-pelan aku tak perlu mensubsidi mereka lagi setiap bulannya. Aku bisa mulai menata masa depanku sendiri. Gumam Mulyono dalam hati.
“Kalau itu maunya Bapak, saya tinggal ngikut saja. Yang penting kita tahu sama tahu, ya, Pak,” putus Mulyono.
“Tenang saja, Mul, semua pasti aman, karena Kita nanti tidak ditransfer via bank, melainkan menerima secara tunai. Tidak perlu takut kepada PPATK atau KPK, to.”
Semua seakan berjalan lancar dan menyenangkan. Mulyono telah menerima uang bagiannya secara cash dari perusahaan itu.
gambar: skalanews

Ketika waktunya pulang untuk menengok kedua orang tuanya, Mulyono sekalian mencarikan sawah pengganti buat garapan Bapaknya. Sepetak sawah kecil di tetangga desa telah Ia dapatkan.
“Kami sebenarnya tidak mengharapkan itu, Mul, itu sudah menjadi kewajiban Kami,” ujar Bapaknya.
Enam bulan berjalan dalam kenyamanan dan aman. Masa apes pun tiba. Pegawai auditor Badan Pemeriksa Keuangan Negara mencium ada yang tidak beres dalam proyek yang ditangani Mulyono tersebut. Mulyono resah bukan kepalang. Masalah telah berpindah ke Polisi dan Kejaksaan. Mulyono berikut Sugihartana, atasannya, akhirnya ditahan. Setelah sebulan penahanan berkas pun dilimpahkan ke Pengadilan.
“Saudara Mulyono, S.E, terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi, untuk itu kepada terdakwa, Hakim memutuskan pidana penjara selama dua tahun penjara dan denda sebesar…..,”  Thok..thok, palu pun di ketok Hakim, tanda putusan usai dibacakan.
Sebulan setelah dipenjara, Mulyono dijenguk Ibunya. Mulyono memohon ampun kepada Ibundanya tersebut. Dengan terisak, Mulyono berujar,” Tapi, darimana Aku mesti membayar denda yang dijatuhkan Pak Hakim, Bu?”
“Tenang, Mul, sawah yang Kamu belikan tempo hari, sudah terjual bersama dengan semua Sapi,  Kambing dan rumah Kita, Syukurlah semuanya bisa menutup denda yang dijatuhkan Hakim kepadamu. Mengenai Bapakmu yang lagi mondok di rumah sakit karena stroke mikirin Kamu, biarlah Ibu nanti yang memikirkannya sendiri, Kamu enggak usah khawatir disini.”
“Tanpa rumah Kita lagi, dimana Ibu tinggal sekarang?” tanya Mulyono sambil terisak.
“Tak usah kau pikirkan aku, Mul. Pak Lurah berbaik hati menyuruhku tidur di bekas lumbung padi desa, mumpung belum panen, setelah itu tak tahulah aku”, beber Emak mengenaskan.
Mulyono lunglai dan akhirnya pingsan. Impian menjadi pegawai negeri telah menyeret dirinya ke bui, bapaknya masuk rumah sakit dan ibunya menjadi gelandangan tanpa rumah. Tragis benar nasib koruptor itu.

Jumat, 14 September 2012

Pentingnya Belajar Budaya dan Bahasa Asing untuk Bisnis Global


Buku       : 100 Kasus Unik Cross-Cultural                                                                                      Misunderstanding                                             
Resensiku Termuat KORAN JAKARTA, Sept 2012
Penulis    :  Fandy Tjiptono (Dosen FE Univ   Atma Jaya)
Penerbit  :  ANDI Yogyakarta                               
Cetakan  :  I, 2012
Tebal       : VI + 130
ISBN       : 978-979-29-3181-5
Harga       : Rp. 26.000

Oleh: Danang Probotanoyo
    Membaca buku ini, bisa membuat pembaca tersenyum bahkan tertawa sendiri. Padahal buku ini jelas bukan buku lelucon atau humor. Buku berjudul: 100 Kasus Unik Cross Cultural Misunderstanding, benar-benar unik sebagaimana namanya. Unik, karena merupakan perpaduan antara buku manajemen sekaligus buku (pengetahuan) budaya. Meskipun demikian jangan membayangkan bahwa buku karangan Fandy Tjiptono, dosen FE Universitas Atma jaya, ini adalah ‘buku berat’ yang berisi dalil, teori maupun postulat ilmu manajemen dan ilmu budaya. Justru sebaliknya, buku ini sangat ringan untuk dibaca semua kalangan termasuk yang awam terhadap  kedua ilmu tersebut.
     Buku ini mengulas contoh-contoh kesalahpahaman karena ketidakmengertian hal budaya, kebiasaan, adat istiadat dan bahasa milik bangsa lain dalam dunia bisnis. Imbasnya berujung  ketidaksuksesan bahkan kegagalan pemasaran suatu produk lintas negara dan lintas budaya. Ternyata  memasarkan suatu produk lintas negara dan budaya (termasuk lintas bahasa) tak cukup hanya mengandalkan “Marketing mix” konsep yang pertama kali dicetuskan oleh Jerome McCarthy, yang dikenal sebagai 4P. Dalil 4P: Product (produk), Price (harga), Place (tempat), Promotion (promosi) tersebut tidak sepenuhnya bisa berhasil untuk memasarkan suatu produk atau menjalankan bisnis secara umum, bila tak dilengkapi dengan pengetahuan hal budaya dan bahasa dimana produk itu dipasarkan atau bisnis itu dijalankan. Bisa-bisa malah menangguk angka penjualan yang jeblok  atau gagalnya urusan bisnis.
     Simak buruknya angka penjualan produk susu bermerek “PET” dari Amerika di daerah yang berbahasa Perancis. Kegagalan bukan karena kualitas produk “PET” yang buruk, melainkan dalam Bahasa Perancis, ‘Pet’ bermakna (maaf): buang angin atau kentut (hlm. 21). Siapa mau coba produk itu? Membayangkan namanya saja bisa muntah. Honda Jazz pada awal peluncurannya di Skandinavia (2001), semula bernama “Fitta”.  Terpaksa diganti nama “Jazz” karena ‘Fitta’ merupakan kata vulgar dalam bahasa  kuno di Swedia, Norwegia dan Denmark, yang berarti: organ intim perempuan! (hlm. 56).
     Pemahaman bahasa asing untuk memasarkan suatu produk lintas negara pun tak cukup berkutat pada makna suatu kata saja. Bahkan, soal pelafalan kata pun harus jeli dipelajari agar tak rancu dengan kata asing di negara tujuan. Pengalaman seretnya General Motors (raksasa otomotif Amerika) dalam memasarkan mobil “Chevy Nova” di Puerto Rico (berbahasa Spanyol) patut dijadikan pelajaran bahwa soal lafal terkadang jadi hambatan. Secara produk, mobil “Nova” dari General Motors tersebut memang tak ada yang salah. ‘Nova’ secara harafiah berarti ‘bintang’. Itu nama yang bagus untuk suatu produk. Namun, bagi konsumen di Puerto Rico, pengucapan kata ‘Nova’ terdengar sama dengan sebuah kata ‘no va’ (Spanyol) yang berarti “It won’t go” alias tidak bisa jalan! (hlm.10). Orang Puerto Rico jelas ogah membeli mobil “yang tak bisa jalan” tersebut.
    Dalam membangun relasi bisnis lintas negara pun mesti paham dengan budaya atau adat istiadat relasi kita. Seorang Amerika kehilangan peluang proyek besar di Arab, gara-gara  menolak ajakan minum kopi yang ditawarkan rekanannya dari Arab itu. Menolak tawaran minum kopi orang Arab merupakan hal yang kasar dan menghina (hlm. 37). Jangan pula Anda memberi kado rekan bisnis dari Hongkong dan Tiongkok bunga anyelir putih atau jam, karena berkonotasi hal kematian atau duka cita.
     Meski hanya berisi 100 contoh kasus kesalahpahaman soal lintas budaya dalam konteks bisnis global, setidaknya, buku ini memberi penyadaran, bahwa strategi pemasaran dalam lingkup ilmu manajemen dan bidang bisnis secara umum tidak akan berhasil bahkan mengalami kegagalan hanya karena kita melupakan atau tidak mau mempelajari budaya, adat istiadat dan bahasa milik bangsa lain.
     Dalam konteks Keindonesian yang begitu majemuk, buku ini menjadi penting guna memicu pebisnis mau mempelajari keragaman budaya, adat istiadat dan bahasa milik etnis atau suku lain senegara. Urgensinya untuk menghindari kesalahpahaman dalam relasi  lintas budaya yang bisa berakibat gagalnya proyeksi bisnis kita, bahkan lebih jauh lagi bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
Diresensi: Danang Probotanoyo, Pembaca Buku