Berpikir-Menulis

Berpikir-Menulis

Minggu, 19 Oktober 2014

Realisme Bakdi Soemanto



Oleh: Danang Probotanoyo
 
Resensi Saya di Jawa Pos, Medio: Oktober 2014
    


Judul Buku : Tart di Bulan Hujan

Pengarang  : Bakdi Soemanto

Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Cetakan       : I, 2014
ISBN           : 978-979-709-796-7
Tebal Buku : viii+198
 

   Ibarat The Three Musketeers, Bakdi Soemanto adalah anggota The Three Musketeers terakhir yang berpulang. Three Musketeers di sini bukanlah tiga ksatria asal Perancis dalam karya Alexandre Dumas yang mendunia itu. Bakdi Soemanto bersama Kuntowijoyo dan Umar Kayam merupakan tiga ilmuwan, budayawan sekaligus sastrawan penting dan utama Indonesia dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketiganya berkontribusi besar terhadap perkembangan dan geliat sastra nasional paling tidak selama empat dasa warsa terakhir.

     Indonesia, khususnya dunia sastra jelas kehilangan sekali dengan meninggalnya Prof. Dr. Christoporus Soebakdi Soemanto (nama lengkap beserta gelar akademis Bakdi Seomanto), pada Sabtu (11/10) di RS Panti Rapih, Yogyakarta. Entah karena berasal dari institusi yang sama yakni UGM, Bakdi, Kuntowijoyo serta Kayam memiliki interes yang nyaris seragam dalam mayoritas karya-karyanya. UGM yang terkenal sebagai “Kampus Rakyat” ada yang lebih ekstrim menyebutnya sebagai “Kampus Ndeso”, yakni kampus yang senantiasa berpihak kepada pemberdayaan masyarakat pedesaan dan marjinal, tak dipungkiri berpengaruh terhadap The Three Musketeers sastrawan tadi. Tema kehidupan masyarakat marginal dan tradisional sangat mendominasi karya-karya ketiganya. Namun demikian bukan berarti ketiganya tanpa deferensiasi sama sekali. Kuntowijoyo kerap menyajikan karya dengan tema mistisisme dan religiositas masyarakat Islam “tradisonal”. Umar Kayam sering berkutat pada karya-karya yang berlatar belakang budaya Jawa yang kental. Sedang Bakdi Soemanto, sebagai seorang penganut Katolik yang taat, memunculkan nilai-nilai dan tradisi kekatolikan dalam banyak karyanya. Mayoritas karya ketiga Musketeers tersebut dipersatukan dalam aliran sastra realisme. Sastra yang mengkonfirmasi kenyataan-kenyataan sosial sehari-hari yang hidup di masyarakat menjadi bahan baku kreasi. 
Resensi Saya di Jawa Pos, Medio: Oktober 2014

     Pun dalam buku kumpulan cerpen bertajuk “Tart di Bulan Hujan” ini, Bakdi Soemanto tak lari dari realisme total. Buku ini berisi 25 judul cerpen Bakdi yang pernah dimuat di beberapa media massa maupun yang belum pernah dipublikasikan. Berbeda dengan cerpenis umumnya yang membuat buku antologi berisi karya-karya yang kebanyakan pernah dikabarkan di media massa. Di buku ini Bakdi justru hanya merilis ulang tujuh karya yang sudah terpublikasi di media massa. Delapan belas judul sisanya merupakan karya yang benar-benar “gres” alias belum pernah dipublikasikan. Ketujuh karya daur ulang itu adalah: Amrok Brokoli, Muhdom, Kepala, Tart di Bulan Hujan (KOMPAS); Ayam Goreng (The Jakarta Post); Kotak Suci (Kanisius); Malam Ketujuh Belas (Nova).

      Idiom-idiom serta tradisi Katolik menjadi ornamen penting  karya Bakdi dalam mengangkat tema hidup keseharian masyarakat. Pada “Tart di Bulan Hujan”, betapa seorang Sum, perempuan sederhana berprofesi pembantu di sebuah home stay, yang hanya bergaji Rp. 250.000 per bulan bercita-cita merayakan Malam Natal dengan membelikan sebuah tart mahal untuk diberikan ke “bayi Yesus”. Tentangan keras muncul dari Uncok, suami Sum yang beprofesi sebagai sopir. Di tengah kesempitan hidup yang teramat dalam, membeli tart berharga ratusan ribu rupiah merupakan sebuah kegilaan, itulah argumen Uncok menentang cita-cita Sum. Namun berkat campur tangan Tuhan melalui orang-orang ringan tangan, cita-cita Sum memuliakan “Yesus” tercapai (hal. 142). Di cerpen “Anjing” menceritakan pengalaman traumatis seorang Matheus Sardula yang membuatnya absen sekian lama untuk hadir di misa Minggu. Penyebabnya, Sardula pernah dimarahi Romo karena membuat diorama gua kanak-kanak Yesus dengan menyertakan miniatur anjing (hal. 9). Nyaris serupa, pada cerita “Ayam Goreng” dikisahkan bagaimana ibunya Buleneng begitu alergi untuk hadir di misa malam Natal tersebab adanya tradisi pesta makan ayam goreng selepas misa di restoran depan gereja tempat tinggalnya. Ibu itu memiliki pengalaman pahit terkait sang manager restoran ayam tersebut. Akhir cerita, Buleneng menyadarkan sang ibu agar menyudahi keengganannya hadir di misa malam Natal dengan mengancamnya akan bunuh diri dengan menggoreng bagian-bagian tubuhnya sendiri (hal. 21). Buku ini ditutup Bakdi dengan cerita “Selembar Uang Ribuan”. Meski didalamnya mengangkat kisah rumah tangga Zoziz dan Zabuna, terselip pula ajakan untuk tak melakukan korupsi. Hal itu tercermin dalam perilaku Zoziz yang selalu memisahkan antara uang pribadi dan uang perusahaan, bahkan hingga ada ide membeli dua dompet dengan warna berbeda (hal. 189).

    Terlepas dari tema dan plot dalam cerita-cerita di buku ini yang tekesan sederhana dan ringan-ringan saja, setidaknya banyak makna dan hikmah bisa dipetik. Bakdi Soemanto tentunya sangat memahami bahwa sebuah karya sastra hendaknya tak lepas dari konsep dulce dan utile (menghibur dan berguna) yang ditelurkan Horace itu.

     Mencermati karya-karya Bakdi, kita niscaya menemukan satu keunikan tersendiri, yakni penamaan tokoh dalam cerita yang tak umum dan susah diingat. Rasanya susah menemukan nama orang Indonesia di dunia nyata, memakai nama: Muhdom, Kaponyos, Utiyoks, Zwili Zanten, Akar Poteng, Buleneng, Lumrang, Zozis, Apyun, Wrentel, Wak Zettep dan lain-lain. Diperlukan keberanian untuk memberi nama tokoh cerita yang serba “ngasal” namun rumit ala Bakdi tersebut. Bisa jadi kita tak akan menemukan lagi keunikan tersebut, seiring berpulangnya “Sang Godot”. Selamat jalan Bakdi!

Danang Probotanoyo, Pegiat Sastra dan Literasi di komunitas Kampung UGM, Alumni UGM

Rabu, 14 Mei 2014

Karl Marx dan Soekarno di Selokan Mataram



   


Resensi Termuat di Jawa Pos, Medio: Mei 2014
Judul Buku     : Dua Arus Selokan Mataram

Penerbit          : PT. Elex Media Komputindo

Penulis            : Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada

Catakan             : I, 2014

Tebal Halaman : xvii + 180

ISBN                  : 978-602-02-3313-0

Oleh: Danang Probotanoyo
 
   Dalam sejarah modern Indonesia, mahasiswa merupakan agen perubahan (agent of change). Setidaknya hal itu mencuat dalam  konstelasi politik pada tahun 1966 dan 1998. Ini tidak musykil, sebab mahasiswa adalah kelompok masyarakat dalam kisaran usia muda sekaligus terdidik. Paduan usia yang masih powerful dengan idealisme yang membuncah, menjadikan mahasiswa  kritis memandang berbagai permasalahan sosial, politik, hukum, lingkungan dan sebagainya.

   Namun banyak kritik dialamatkan pada kelompok terdidik itu manakala telah purna menjalankan studinya menjadi seorang sarjana. Sarjana kerap terjebak dalam laku pragmatisme. Sarjana bak hidup di menara gading, asyik dengan perburuan karier dan status sosial lainnya. Mereka seolah teralienasi dari permasalahan bangsa dan masyarakat, bahkan ada kalanya bertolak belakang; sewaktu mahasiswa lantang meneriakkan keadilan dan menolak segala  penyelewengan,  setelah menjadi sarjana malah terlibat korupsi.

     Tak ingin ikut terjebak dalam “apatisme” dan “pragmatisme”, sekelompok alumni  Universitas Gadjah Mada, yang terwadahi dalam grup Facebook  Kagama Virtual, ingin memberikan sumbangsih nyata untuk ibu pertiwi. Beberapa anggota lantas menggagas lomba penulisan cerpen yang terbuka untuk  alumni.  Tema yang diusung adalah “Kisah Masa-Masa Kuliah”.  Lomba  berhasil menjaring 248 judul cerpen dari 213 penulis. Tujuh juri yang ditunjuk akhirnya menetapkan 10 judul cerpen dan menerbitkannya dalam sebuah buku kumpulan cerpen. Nilai-nilai moral dan idealisme yang kerap disuarakan  mahasiswa ternyata masih dipegang teguh para sarjana penulis buku ini.

      Banyak sisi kehidupan dunia mahasiswa terpotret dalam sepuluh cerpen di buku ini.   Buku kumpulan cerpen Kagama Virtual ini diberi nama “Dua Arus Selokan Mataram”, mengambil judul cerpen yang keluar sebagai pemenang pertama. Selokan Mataram adalah nama sebuah kanal atau saluran irigasi yang menghubungkan dua buah sungai besar di DIY, yakni Sungai Opak dan Sungai Progo. Dibangun semasa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942. “Selokan” tersebut buah pikiran brilian Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai penguasa Mataram saat itu. Pembangunan Kanal sepanjang kurang lebih 30 Km yang melibatkan ribuan rakyat Jogja sebagai siasat semata Sri Sultan HB IX agar rakyatnya tidak dijadikan romusha ke luar Jawa. Selokan Mataram dan UGM: dua nama yang tak terpisahkan. Seruas “selokan” besar itu melintasi sisi utara Kampus UGM. Judul buku “Dua Arus Selokan Mataram” semakin memperkokoh “dwi tunggal” UGM-Selokan Mataram. 

     Pada cerita “Dua Arus Selokan Mataram”  -- menjadi judul buku – mengisahkan  pertemuan antara seorang mahasiswa yang bernama Kaldepa dan mahasiswi bernama Mayada di Selokan Mataram. Keduanya kerap menyambangi Selokan Mataram dengan tujuan yang berbeda. Kaldepa ke Selokan Mataram tersebab ingin selalu berbagi cerita dengan sang selokan. Mayada sebaliknya, dia rutin berkunjung ke Selokan Mataram  untuk mengenang kekasihnya yang telah mati kala berarung jeram di sungai. Sejak itulah Mayada rajin mendatangi Selokan Mataram untuk meluapkan kebenciannya terhadap sungai yang telah merenggut Dimitri kekasihnya. Pertemuan dengan Kaldepa sedikit melunakkan hati Mayada. Di akhir cerita, hati Mayada mulai terpaut ke Kaldepa. Sayang, di saat benih-benih cinta mulai tumbuh, Kaldepa justru  menghilang dari Selokan Mataram (hal 1-24).
Resensi Saya, termuat di Jawa Pos, Medio: Mei 2014


     Bangku kuliah kerap dianggap sebagai pintu menuju kesuksesan seseorang. Nyatanya tak selamanya demikian. Dalam cerita “Kedarpan”, Hasan sebagai sarjana telah meraih sukses menjadi direktur di satu perusahaan. Nasib bertolak belakang dialami Beni. Sebagai sarjana, Beni hidupnya masih terseok-seok. Beni hanyalah buruh kecil di satu pabrik. Padahal Hasanlah yang dulu memotivasi Beni agar kuliah. Setelah berpisah 20 tahun, tak dinyana keduanya dipertemukan dalam satu aksi unjuk rasa buruh dengan posisi jabatan serta kepentingan yang saling bertolak belakang ( hal 26-40).     

     Dunia mahasiswa bertalian erat dengan geliat keaktivisan. Setidaknya tema itu mengemuka di cerita “Saputangan Merah Jambu”. Dalam cerita tergambarkan hiruk pikuk dunia aktivis jelang reformasi 1998. Berbagai intrik selalu mewarnai gerakan mahasiswa, termasuk adanya oknum agen ganda yang bernama Iwan. Sungguh  fenomena yang biasa di dunia aktivis, dimana seseorang bisa berperan sebagai aktivis sekaligus informan bagi aparat (hal 162-180).

        Meski secara umum tema yang diangkat dalam buku ini didominasi kisah asmara, namun di dalamnya banyak racikan referensi  ilmu. Ada pokok-pokok pikiran Karl Marx, Che Guevara hingga Soekarno di dalam cerita “Menikah” (hal 150-159). Pada cerita “Perjumpaan di Candi Prambanan”, ada eksplorasi budaya, sastra serta kepariwisataan. Kisah asmara antara tokoh “Aku” dan Gitanyali justru hanya menjadi tempelan untuk membedah budaya, sastra dan kepariwisataan (hal 130-148).

      Buku “Dua Arus Selokan Mataram” karya para sarjana UGM ini tak hanya pelepas  dahaga akan bacaan sastra. Pembacanya juga disuguhi ragam  pengetahuan akademis dari berbagai disiplin ilmu, linier dengan back ground keilmuan para penulisnya. Lebih dari itu, penerbitan buku ini kental misi sosial dan nilai moralnya, sebab hasil penjualannya disumbangkan untuk bea siswa anak kurang mampu dan untuk kegiatan sosial lainnya. Nah, kampus mana lagi segera menyusul?