Berpikir-Menulis

Berpikir-Menulis

Rabu, 14 Mei 2014

Karl Marx dan Soekarno di Selokan Mataram



   


Resensi Termuat di Jawa Pos, Medio: Mei 2014
Judul Buku     : Dua Arus Selokan Mataram

Penerbit          : PT. Elex Media Komputindo

Penulis            : Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada

Catakan             : I, 2014

Tebal Halaman : xvii + 180

ISBN                  : 978-602-02-3313-0

Oleh: Danang Probotanoyo
 
   Dalam sejarah modern Indonesia, mahasiswa merupakan agen perubahan (agent of change). Setidaknya hal itu mencuat dalam  konstelasi politik pada tahun 1966 dan 1998. Ini tidak musykil, sebab mahasiswa adalah kelompok masyarakat dalam kisaran usia muda sekaligus terdidik. Paduan usia yang masih powerful dengan idealisme yang membuncah, menjadikan mahasiswa  kritis memandang berbagai permasalahan sosial, politik, hukum, lingkungan dan sebagainya.

   Namun banyak kritik dialamatkan pada kelompok terdidik itu manakala telah purna menjalankan studinya menjadi seorang sarjana. Sarjana kerap terjebak dalam laku pragmatisme. Sarjana bak hidup di menara gading, asyik dengan perburuan karier dan status sosial lainnya. Mereka seolah teralienasi dari permasalahan bangsa dan masyarakat, bahkan ada kalanya bertolak belakang; sewaktu mahasiswa lantang meneriakkan keadilan dan menolak segala  penyelewengan,  setelah menjadi sarjana malah terlibat korupsi.

     Tak ingin ikut terjebak dalam “apatisme” dan “pragmatisme”, sekelompok alumni  Universitas Gadjah Mada, yang terwadahi dalam grup Facebook  Kagama Virtual, ingin memberikan sumbangsih nyata untuk ibu pertiwi. Beberapa anggota lantas menggagas lomba penulisan cerpen yang terbuka untuk  alumni.  Tema yang diusung adalah “Kisah Masa-Masa Kuliah”.  Lomba  berhasil menjaring 248 judul cerpen dari 213 penulis. Tujuh juri yang ditunjuk akhirnya menetapkan 10 judul cerpen dan menerbitkannya dalam sebuah buku kumpulan cerpen. Nilai-nilai moral dan idealisme yang kerap disuarakan  mahasiswa ternyata masih dipegang teguh para sarjana penulis buku ini.

      Banyak sisi kehidupan dunia mahasiswa terpotret dalam sepuluh cerpen di buku ini.   Buku kumpulan cerpen Kagama Virtual ini diberi nama “Dua Arus Selokan Mataram”, mengambil judul cerpen yang keluar sebagai pemenang pertama. Selokan Mataram adalah nama sebuah kanal atau saluran irigasi yang menghubungkan dua buah sungai besar di DIY, yakni Sungai Opak dan Sungai Progo. Dibangun semasa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942. “Selokan” tersebut buah pikiran brilian Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai penguasa Mataram saat itu. Pembangunan Kanal sepanjang kurang lebih 30 Km yang melibatkan ribuan rakyat Jogja sebagai siasat semata Sri Sultan HB IX agar rakyatnya tidak dijadikan romusha ke luar Jawa. Selokan Mataram dan UGM: dua nama yang tak terpisahkan. Seruas “selokan” besar itu melintasi sisi utara Kampus UGM. Judul buku “Dua Arus Selokan Mataram” semakin memperkokoh “dwi tunggal” UGM-Selokan Mataram. 

     Pada cerita “Dua Arus Selokan Mataram”  -- menjadi judul buku – mengisahkan  pertemuan antara seorang mahasiswa yang bernama Kaldepa dan mahasiswi bernama Mayada di Selokan Mataram. Keduanya kerap menyambangi Selokan Mataram dengan tujuan yang berbeda. Kaldepa ke Selokan Mataram tersebab ingin selalu berbagi cerita dengan sang selokan. Mayada sebaliknya, dia rutin berkunjung ke Selokan Mataram  untuk mengenang kekasihnya yang telah mati kala berarung jeram di sungai. Sejak itulah Mayada rajin mendatangi Selokan Mataram untuk meluapkan kebenciannya terhadap sungai yang telah merenggut Dimitri kekasihnya. Pertemuan dengan Kaldepa sedikit melunakkan hati Mayada. Di akhir cerita, hati Mayada mulai terpaut ke Kaldepa. Sayang, di saat benih-benih cinta mulai tumbuh, Kaldepa justru  menghilang dari Selokan Mataram (hal 1-24).
Resensi Saya, termuat di Jawa Pos, Medio: Mei 2014


     Bangku kuliah kerap dianggap sebagai pintu menuju kesuksesan seseorang. Nyatanya tak selamanya demikian. Dalam cerita “Kedarpan”, Hasan sebagai sarjana telah meraih sukses menjadi direktur di satu perusahaan. Nasib bertolak belakang dialami Beni. Sebagai sarjana, Beni hidupnya masih terseok-seok. Beni hanyalah buruh kecil di satu pabrik. Padahal Hasanlah yang dulu memotivasi Beni agar kuliah. Setelah berpisah 20 tahun, tak dinyana keduanya dipertemukan dalam satu aksi unjuk rasa buruh dengan posisi jabatan serta kepentingan yang saling bertolak belakang ( hal 26-40).     

     Dunia mahasiswa bertalian erat dengan geliat keaktivisan. Setidaknya tema itu mengemuka di cerita “Saputangan Merah Jambu”. Dalam cerita tergambarkan hiruk pikuk dunia aktivis jelang reformasi 1998. Berbagai intrik selalu mewarnai gerakan mahasiswa, termasuk adanya oknum agen ganda yang bernama Iwan. Sungguh  fenomena yang biasa di dunia aktivis, dimana seseorang bisa berperan sebagai aktivis sekaligus informan bagi aparat (hal 162-180).

        Meski secara umum tema yang diangkat dalam buku ini didominasi kisah asmara, namun di dalamnya banyak racikan referensi  ilmu. Ada pokok-pokok pikiran Karl Marx, Che Guevara hingga Soekarno di dalam cerita “Menikah” (hal 150-159). Pada cerita “Perjumpaan di Candi Prambanan”, ada eksplorasi budaya, sastra serta kepariwisataan. Kisah asmara antara tokoh “Aku” dan Gitanyali justru hanya menjadi tempelan untuk membedah budaya, sastra dan kepariwisataan (hal 130-148).

      Buku “Dua Arus Selokan Mataram” karya para sarjana UGM ini tak hanya pelepas  dahaga akan bacaan sastra. Pembacanya juga disuguhi ragam  pengetahuan akademis dari berbagai disiplin ilmu, linier dengan back ground keilmuan para penulisnya. Lebih dari itu, penerbitan buku ini kental misi sosial dan nilai moralnya, sebab hasil penjualannya disumbangkan untuk bea siswa anak kurang mampu dan untuk kegiatan sosial lainnya. Nah, kampus mana lagi segera menyusul?

Sabtu, 19 April 2014

Kaos Kampanye dan BB Kuncung



Oleh : Danang Probotanoyo
 
Cerpen Saya, Termuat di Radar Surabaya, Medio: April 2014
       Gara-gara sebulan yang lalu dusunnya ketempatan mahasiswa UGM yang ber-KKN, sudah dua minggu Kuncung mogok bicara kepada simboknya dan tak pernah keluar rumah. Hari-harinya dihabiskan dengan mengurung diri di kamar. Keluar kamar hanya untuk mandi dan buang hajad. Makan pun di dalam kamar. Tugas harian menimba air dan mencari rumput untuk makan
sapi dan kambing Simbok tidak pula dijalankan. Terpaksa Simbok  meng-handle semua pekerjaan itu.        

            Ini jelas indisipliner! Gerutu Simbok menirukan istilah yang sering didengarnya dari    

              para mahasiswa itu.

Bahkan, beberapa undangan kenduren tetangga pun dilewatinya.

            “Ini bukan perkara sepele! Kalau dibiarkan terus, bisa mengganggu stabilitas dusun kita.    

             Kalian harus menyelidiki ke sana! Kalian saya bekali dengan surat tugas resmi,” kata  

             Pak Kepala Dusun kepada Jambul dan Kuncir. Eksistensi Kuncung tetaplah signifikan.

“Dia ingin dibelikan beri-beri, itu lho, yang tempo hari dipakai mainan Mas Henky, anak KKN itu,” kata Simbok.

Jambul dan Kuncir terpingkal-pingkal mendengar omongan Simbok.         
Pemberangkatan KKN Mahasiswa UGM

“Mbok, Mbok, itu bukan beri-beri, tapi HP Blackberry! Kata Mas Henky, itu HP tercanggih. Kami pernah melihat punya Mas Henky,” ujar Jambul masih cekikikan.

“Canggih itu opo, ‘Le?” tanya Simbok lugu.

“Ah, sudahlah, nanti Simbok tambah bingung bila kami jelaskan. Apakah Simbok keberatan  membelikan?” timpal Kuncir.

“Bukannya Simbok keberatan, Kuncungnya yang nggak sabaran. Simbok hanya menyuruh nunggu sampai Lebaran Haji. Simbok akan jualkan satu Sapi. Kan harganya lumayan tinggi kalau dijual pas Lebaran Haji.”

Cerdik juga Simbok, bisik keduanya.

“Tapi, Mbok, kalau menunggu hingga Lebaran Haji, itu masih delapan bulan lagi. Terlalu lama. Apa Simbok tidak khawatir bila si Kuncung stres terus  selama delapan bulan ke depan? Nanti kalau dia terus nekad kayak Paklik Sarjimin dulu itu, gimana hayo? Jambul dan Kuncir memprovokasi Simbok.

“Waduh, betul juga kalian. Kalau kejadiannya kayak si Sarjimin memang akan sangat memalukan. Kenapa Sarjimin dulu waktu nggantung di pohon duwet lupa ngiket kolornya yang kombor itu ya? Hi..hi..hi, aku sempat ngelihat lho. Ternyata Sarjimin hingga tuanya belum disunat,” Simbok terkekeh.

Simbok ngeres, ah. Jangan ngomong masalah malu karena melorotnya kolor dong, Mbok! Tapi kalau Kuncung sampai nekad, status Simbok meningkat bukan janda lagi, tapi  menjadi  sebatang kara tanpa keturunan,” tukas Kuncir.

“Tapi, kalau Simbok mau ngangkat kami sebagai anak nggantiin Si Kuncung, kami tidak keberatan kok. Lumayan kan  dapat warisan sapi tiga, kambing lima, hi, hi,” gurau Jambul.

Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata si Kuncung menguping pembicaraan.  

“Brengsek kalian! Kalian tengah mengincar singgasanaku sebagai putera mahkota pewaris Sapi dan Kambing Simbok. Awas  nanti!”  gerutu Kuncung, yang terlalu doyan nonton Ketoprak itu.

“Idih, amit-amit punya anak seperti kalian. Meski si Kuncung giginya agak tonggos dan suka ngentutan,  dia nggak pemalas seperti kalian,” Simbok nyemash Jambul dan Kuncir.

Dari dalam kamar si Kuncung cuma tersenyum kecut. Dia besar kepala karena dipuji Simbok, sekaligus merasa ditelikung Simbok di depan kawan-kawannya.

Karena diprovokasi terus-menerus, Simbok pun menyerah.

“Oke,oke, besok aku suruh si Kuncung ke pasar hewan kecamatan untuk  njual satu Sapi.”

Simbok pun berlalu. Jambul dan Kuncir menghampiri Kuncung dalam kamarnya. Gumuruhlah kamar tersebut dengan tawa ketiganya.

“Gimana, Cung, terbuktikan kalau kami berdua bisa dijadikan kawan andalan?!

“Iya, tapi kalian sempat kurang ajar, ingin menggantikan posisiku di rumah ini. Untung aku mendengarnya. Kalau nggak, lain waktu Kalian mungkin akan ngracuni aku biar bisa jadi anak Simbok, Kampret!”

“Idih, dicandain sewot amat, nggak lah, justru kami nggak ingin kamu lekas mati karena stres kayak Paklik Sarjimin tempo hari. Bukan apa-apa, siapa lagi nanti yang akan membawakan besek kenduren bila kami  lagi absen kendurenan, ha, ha.”   



Tawa ketiga bocah dusun itu pun memecah kesunyian siang itu.

Keesokan harinya Kuncung telah menuntun seekor Sapinya menuju  jalan dusun.

“Jangan lupa, Cung, pulangnya mampir beli sirih dan kapur ya, ingat itu!” seru Simbok.

“Iya Mbok, doakan  semoga Sapi ini laku mahal.”

Singkat cerita, Sapi telah laku terjual. Kuncung kelabakan karena seluruh kios HP yang ada di ibukota kecamatan itu tak ada yang menjual Blackberry (BB). Maklum, saat itu BB masih menjadi barang baru dan mahal. Dia pun bingung, kemudian memutuskan pergi ke wartel yang tersisa. Sekeluar dari wartel, dia nyegat angkot yang menuju arah kota. Ternyata di wartel  tadi dia menghubungi Henky, anak UGM yang dulu KKN di dusunnya. Sampailah Kuncung di kos-kosan Henky, di bilangan Kodya Yogyakarta.

Gimana kabar dusunmu setelah kami tinggalkan, Cung? Apakah benih lele yang kami tebar ke blumbang dusun dulu itu sudah besar-besar?” Henky membuka pertanyaan.

“Semua baik, Mas. Cuma Lele-lele itu sudah ludes di apotas orang jahil, Mas. Ada yang nyabotase. Maklum mau pilihan lurah. Sepertinya ada yang tidak ingin lurah lama terpilih lagi, jadi bikin kisruh disana.”

Emang, Pak Lurah maju lagi to? Emang bagus dia?”

“Nggak juga sih, Mas. Cuma orang dusun seperti kami masih banyak yang menyukai tipenya Pak Lurah lama. Orangnya kan sopan dan kalem kalau ngomong. Walau sebenarnya program kerjanya nggak bagus-bagus amat. Listrik saja sekarang dinaikin sama dia.”

“Bodoh banget kamu, Cung, Cung, yang naikin listrik itu mah orang PLN sama orang di Jakarta sonoh, bukan lurahmu itu.”

“Tapi, kan, sama saja Mas. Ujung-ujungnya, Pak Lurah kan anak buah ‘Orang Jakarta’ itu,” Kuncung tak mau kalah.

“Sudah tahu gitu, kaos gambar ‘Orang Jakarta’ itu masih juga kamu pakai kesini, malu-maluin.”

“Enak, sih, Mas. Kaosnya adem karena tipis banget. Kayaknya kaos murahan ya, Mas? Waktu musim kampanye dulu aku dapat tiga, lho. Mas Henky mau? Entar yang satu aku bawakan  untuk Mas Henky.”

“Buat ngepel kamar! Mendingan aku pakai kaos Liverpool ini Cung, lebih keren.”

Singkat cerita, Kuncung menyampaikan maksudnya kepada Henky untuk memiliki BB.

sumber gambar: uniqpost.com
Ceile, kamu mau njago lurah juga apa? Punya BB, nanti kamu boros beli pulsa lho, Cung.”

Berboncengan motor milik Henky, keduanya melaju ke Malioboro. Berkat kepiawaian Henky bernegosiasi dengan pedagang HP di Malioboro, Kuncung akhirnya memiliki BB baru lengkap dengan dosnya. Sebagai balas budi, Henky ditraktir makan di sebuah  warung “nasi kucing”. Sebagai anak kos, Henky tak menyia-nyiakan kesempatan. Empat bungkus “nasi kucing” disambarnya sekaligus. Tidak ketinggalan dua gelas wedang jahe telah digelontorkan ke kerongkongannya.

“Nambah, Mas, wedangnya?”

Diamput! Kamu samakan aku dengan sapi gelonggongan, ya?!”

“Kan kalau disembelih berat kiloannya, Mas.”

“Alah, kebanyakan nonton berita kriminal Kamu.”

“Sering-sering Kamu ke kos-kosanku, Cung! Terutama pas tanggal tua, he..he..he.”

“Iya, Mas, nanti aku bawakan Kimpul sama Ganyong.”

Semprul kowe! Dua bulan aku KKN di dusunmu disuguh itu terus, habis itu aku opname di rumah sakit. Ususku pada lengket, tahu!”

Setelah makan kenyang dan geguyonan, Henky mengajak Kuncung ke sebuah “Butik Baju Bekas Import”.

“Lho, ngapain kita ke sini, Mas?”

“Beli pakaian bagus bekasnya orang Taiwan. Duitmu kan masih sisa banyak, kan?

“Buat apa Mas? kaosku ini masih bagus kok, kan baru tahun 2009 kemarin dapatnya.”

“Jangan dipakai lagi! Malu-maluin. Entar setelah memakai baju baru, Kamu akan aku potret. Sekalian nanti  beli kaca mata hitam, biar keren.”

“Buat apa di potret, Mas?!  KTP-ku masih lama kok habisnya.”

“Siapa mau bikin KTP, dodol! Kamu akan aku bikinin paspor! mau tak kirim ke Kuwait, jadi TKI disana, mau?”

“Enggak, ah, di tv banyak TKI babak belur dihajar majikannya. Sudah begitu nggak dibayar lagi, ya kan Mas? Tahu begitu kenapa masih juga kita ngirim orang ke sana ya, Mas.”

Mboh! Tanya saja sama ‘orang di kaosmu’ itu.”

“Emang dia pernah jadi TKI disana, Mas?”

“Cung, lama-lama kamu tak antemi, lho, ngomongin ‘orang itu’ terus. Mumet aku, Cung!”

“Emang, ‘orang itu’ suka marahin Mas Henky, ya? Kok, Mas Henky mumet.”

“Gara-gara dia, kos-kosanku naik. Ibu kos keberatan mbayar listriknya, tahu kamu!  Sudahlah, jangan ngomongin ‘orang itu’ lagi, perutku jadi mules setiap noleh ke kaosmu itu. Masih banyak hal yang lebih penting daripada dia, ya, kan?

Mereka pun pulang kembali ke kos-kosan Henky. Kuncung tampak lebih ganteng dengan baju baru tapi bekas itu. Apalagi di atas sakunya tertera huruf China. Sedang kaos yang tadi dikenakan Kuncung dibuntal tas kresek hitam. Henky memerintahkan Kuncung memberikan kaos dan kreseknya  ke tukang becak yang mangkal di Alun-alun Utara.

Matur nuwun,  ya, ‘Den,” kata si bapak tukang becak.

“Sama-sama pak. Semoga itu bisa ngrejekeni bapak,” kata Henky, yang  merasa plong kaos itu tak ada didepannya lagi.

Sampailah mereka di kamar kos Henky. Tiga jam full, Henky memberi training bagaimana cara mengoperasikan BB itu. Maklum, ngajari Kuncung menggunakan BB sama dengan ngajari anak TK menghitung luas segitiga. Gampang namun menjadi susah, karena pikiran nggak nyampai, alias lelet. Tak lupa si Kuncung dipotret dengan BB itu.

“Buat apa fotoku ini, Mas?”

“Buat headshot di akunmu. Jangan lupa rubah namamu dari Kuncung menjadi Charly, ingat itu!”

Sebulan kemudian, di rumah bapak kepala dusun, tempat si Charly alias Kuncung tinggal, nampak orang ramai berkumpul. Semua orang dusun hadir di situ, termasuk Jambul dan Kuncir, sobat si Kuncung. Mereka membicarakan hal ketidakmunculan Kuncung selama sebulanan. Ini sudah menjadi keresahan bersama, karena Kuncung juga absen pada semua kegiatan  warga.

“Benar Pak Kadus, jangankan untuk urusan kegiatan warga, terhadap kami pun si Charly alias Kuncung  sudah merasa nggak membutuhkan lagi,” ujar Jambul dan Kuncir.

“Lho, bukankah selama ini dia selalu memerlukan kalian bila menghadapi  masalah? Kalian kan sobat karibnya,” ujar Pak Kadus.

“Itu dulu Pak Kadus. Sekarang sudah nggak lagi semenjak dia memiliki banyak kawan baru. Katanya, kawan barunya itu sekitar 4.000 orang. Keren-keren lagi. Sekarang Charly nggak mau bergaul dengan kami lagi. Sehari-harinya hanya di dalam kamar, toh dengan begitu saja dia sudah bisa memiliki ribuan teman. Itu kata Simboknya, lho, Pak,” tukas Jambul dan Kuncir kompak. 
Link:

http://www.radarsby.com/radarsurabaya%20pdf/6.pdf 

Yogyakarta, Maret  2014, Seusai Melihat Berita Kampanye
Catatan:
-          Kendurian: Hajadan                                      - Besek: Kotak makanan dari bambu
-          Cengengas-cengenges: Ketawa-tawa            - “Nasi Kucing”: Nasi bungkus sambal teri porsi kecil
-          ‘Le: Dari Tole (anak laki di Jawa)               - Mboh: Tak tahulah
-          Paklik: Paman                                                - Ngeres : Jorok       
-          Kombor: Longgar                                           - Ketoprak: Sandiwara Bahasa Jawa