Berpikir-Menulis

Berpikir-Menulis

Jumat, 30 Januari 2015

Optimisme di Tahun 2015 (?)


Judul Buku : MENATAP INDONESIA 2015, Antara Harapan dan Tantangan
Pengarang  : Sri Hartati Samhadi, dkk.                                                               
Resensiku di Kedaulatan Rakyat, Medio: Januari'15
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Cetakan       : I, 2015
ISBN           : 978-979-709-896-4
Tebal Buku : xvii + 285

Oleh: Danang Probotanoyo
     Pergantian tahun 2014 ke 2015 kali ini ditandai dengan pergantian presiden. Indonesia memiliki presiden baru sejak sepuluh tahun terakhir. Era Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memimpin negeri ini selama satu dekade, berakhir pada tanggal 20 Oktober 2014. Ya, sejak itu pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan M. Jusuf Kalla resmi menjadi presiden dan wakil presiden hingga 2019 mendatang. Melihat rekam jejaknya ketika menjadi Walikota Solo hingga Gubernur DKI Jakarta, rakyat sangat berharap banyak Jokowi  mampu membawa perubahan saat menjadi RI-1. Sewaktu menjadi Walikota Solo, Jokowi banyak menorehkan prestasi sehingga dirinya pernah dinobatkan sebagai salah satu walikota terbaik di dunia. Di Solo, Jokowi memindahkan para PKL dari trotoar jalan ke pasar-pasar yang dibangun khusus untuk mereka. Nyaris tanpa gejolak sama sekali. Jokowi berkali-kali mengatakan, semua itu berkat “diplomasi makan siang” bersama para pedagang yang akan direlokasi olehnya. “Diplomasi kultural” Jokowi terbukti berhasil. Begitupun saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, Jokowi banyak membuat gebrakan. Revitalisasi waduk di Jakarta serta merelokasi penduduk bantaran sungai ke rusunawa adalah kiat Jokowi untuk menanggulangi banjir di Ibukota. Demi meningkatkan kinerja birokrasi pemerintahan DKI Jakarta, Jokowi membuat langkah fenomenal dengan “lelang jabatan”.
Resensiku di Kedaulatan Rakyat, Medio: Januari'15
     Namun, memimpin Indonesia tentu jauh berbeda dari “sekadar” memimpin sebuah kota atau propinsi. Cakupan permasalahan, jumlah penduduk, dan luasan wilayah Indonesia tentu jauh lebih besar dan kompleks daripada Jakarta apalagi Solo. Belum lagi di akhir 2015 nanti Indonesia masuk dalam MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang penuh tantangan. Ide dasar MEA adalah liberalisasi barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan pasar modal dalam kawasan ASEAN. Dengan adanya arus manusia, modal dan barang yang bebas bergerak dalam MEA, muncul kekhawatiran bahwa Indonesia – yang berpenduduk  242,3 juta atau 40 % total populasi MEA -- hanya menjadi target pasar. Hal itu sangat beralasan mengingat kekuatan ekonomi Indonesia mencapai 878,2 milyar Dollar AS atau sekitar 38 % kekuatan ekonomi ASEAN. Tanpa ada MEA pun, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan negara ASEAN lainnya beberapa tahun belakangan. Defisit perdagangan terbesar didapat dari Singapura dan Thailand.
     Salah satu penyebab rendahnya daya saing Indonesia adalah infrastruktur yang buruk. Peringkat infrastruktur Indonesia ada diurutan ke-61, Thailand (47), Malaysia (29), Singapura (2). Indonesia hanya lebih baik dari Vietnam (82), Laos (84) dan Filipina (96) (hal. 70). Pemerintahan Jokowi bertekad ingin memperbaiki secara besar-besaran infrastruktur yang buruk ini. Jurus menaikkan harga BBM (pengalihan subsidi BBM) pun diambilnya per 1 November silam. Infrastruktur yang buruk membuat investor asing kerap berpikir ulang bila akan berinvestasi ke Indonesia. Beberapa investor kakap lebih memilih menanam modal ke negara tetangga. Samsung Electronics dari Korsel membangun pabrik telepon genggam berkapasitas 40.000 pekerja di Vietnam. Blackberry asal Kanada juga menetapkan Malaysia sebagai basis produksinya. Selain infrastruktur yang buruk, para calon investor kerap dipusingkan ketidakpastian hukum di Indonesia. Adanya aturan perijinan yang berbelit-belit dan lama, serta masih maraknya pungli membuat para investor terbebani ekonomi biaya tinggi. Alih-alih menjadi produsen untuk ekspor, para pengusaha kita lebih suka menjadi importir barang made in luar negeri. Lebih murah dan bagus katanya. Cangkul dari Tiongkok lebih murah dari cangkul buatan Ceper, Klaten.          
      Sulitnya untuk memulai berbisnis di Indonesia tercermin dari survey yang dilakukan Data International Finance Corporation. Menurut lembaga tersebut,  Indonesia berada di peringkat ke 120 dari 189 negara yang disurvey (2014). Singapura di peringkat pertama, Malaysia (6), Thailand (18), Brunei (59), Vietnam (99), Filipina (108). Penyebab rendahnya peringkat Indonesia: tingkat kesulitan untuk mendapatkan pasokan listrik, rumitnya perijinan untuk memulai bisnis, aturan dalam pembayaran pajak, pelaksanaan kontrak (hal 77).
    Namun demikian, MEA harus dipandang sebagai sebuah peluang daripada ancaman. Untuk itu perlu kerjasama dari semua pihak agar tercipta iklim berusaha yang kondusif di Indonesia. Hindari kegaduhan politik yang tak perlu dan berkepanjangan. Karena salah satu faktor sukses Indonesia dalam menghadapi MEA adalah modal sosial yang telah dimiliki dan menjadi ciri khasnya (hal. 187). Jangan lupa, saat ini Indonesia sedang mengalami “bonus demografi” yang sangat menguntungkan dari sisi produktifitas. Sebanyak 60-70% dari total penduduk Indonesia  berada dalam rentang usia produktif (15-64 tahun). Bila semua penduduk produktif itu terkelola dengan baik, terserap dunia kerja, niscaya akan meningkatkan produktifitas nasional secara signifikan. Sebaliknya bila tak tersedia lapangan kerja dan buruknya iklim untuk berusaha, bonus demografi menjadi sumber masalah baru. Terjadi penumpukan jumlah pengangguran. Membaca tuntas buku ini, niscaya akan membuat kita lebih optimis di tahun 2015 ini. Bangsa Indonesia harus percaya bahwa  tantangan dan peluang bak dua sisi mata uang. Di balik tantangan ada peluang. Tinggal bangsa ini mau mengambil peluang atau malah gemetaran melihat tantangan bak melihat hantu.     
 Danang Probotanoyo,  Centre for Indonesia Reform Studies, Alumnus UGM

Sabtu, 10 Januari 2015

Lensa Kamar Putih Fariz R.M.



Oleh: Danang Probotanoyo
Kau bawa diri dalam khayal lensa kamar putih/Pengisi sepi akrab selama ini/Berjalan kaku tak sanggup berlagu/Berjuta harta terkubur dibawah sadarmu/Wajahmu tak lagi cerah ayu, berganti sendu/Tubuh yang menuntut tak kompromi tak mau tahu/Kau jual diri sebagai pengganti jenuh dan frustrasi/Membiarkan racun datang mengabdi untuk meronta/Terlentang tak sadar di dalam lensa kamar putih/Mencari mimpi yang tiada berarti/Tenggelam kenyataan hidup ini dalam semu/Mencoba lupakan yang lalu...
(Lensa Kamar Putih, Fariz RM/1984)


Esai Saya di KORAN TEMPO, Medio: Januari 2015
       Itulah baris-baris lirik lagu berjudul “Lensa Kamar Putih” yang hits di sejumlah radio nasional pada medio pertengahan 1984. Pelantunnya adalah Fariz Roestam Moenaf, yang akrab dipanggil Fariz RM, seorang musisi multi instrumentalis, komposer, arranger sekaligus singer. Remaja era  80-an sangat mengidolakan sosok Fariz RM. Bukan hanya kepiawaiannya bermain musik, tapi wajah tampannya sangat digila-gilai para gadis di era 80-an. Fariz RM banyak disebut salah satu pembaharu musik pop modern Indonesia. Bersama komunitas pemusik di Pegangsaan, seperti Chrisye (alm), Jockey Suryoprayogo dan Keenan Nasution, Fariz mengubah haluan musik Indonesia dari musik-musik “mainstream mellow”, menjadi musik dinamis, modern dan keren. Orang zaman dulu bilang “musik gedongan”. Fariz RM menyeruak diantara musik-musik melodius-mendayu ala Rinto Harahap, Pance Pondaag, Obbie Mesakh dan lain-lain. Solo karier perdananya membuat kehebohan publik musik Indonesia. Di awal tahun 1980 itu, Fariz RM mencuat dengan albumnya “Sakura”. “Sakura” bukanlah album biasa. Fariz RM memiliki referensi bermusik yang sangat bagus dalam meramu “Sakura”. “Sakura” menyuguhkan musik-musik danceable yang tak lazim di zaman itu. Ada warna disco ala “Saturday Night Fever” dari The Bee Gees. Juga sentuhan rock n roll, blues dan jazz ala Al Jerreau, Genesis hingga Earth Wind and Fire. Komplit! Lebih gilanya lagi, album Sakura digarap Fariz RM hanya seorang diri di studio rekaman. Seluruh instrumen musik Ia mainkan seorang diri, begitupun urusan teknis rekaman lainnya. Tak urung, Fariz RM menjadi fenomenal saat itu. “Anak ajaib” atau “anak jenius” sempat disematkan media kepada Fariz RM. Kepeloporan itu menjadi satu-satunya di Indonesia hingga kini. Belum pernah ada dalam catatan seorang musisi membuat album rekaman begitu total seperti halnya Fariz RM di album “Sakura” itu. Fariz RM pun menjadi kiblat poros musik tertentu di Indonesia. Muncullah terminologi “Pop Progresif” atau “Pop Kreatif” sebagai penunjuk jenis musik yang dimainkan Fariz RM. Kemasyuran Fariz RM membuat dirinya banyak diajak dalam berbagai kolaborasi musik. Tercatat Fariz RM menggawangi aneka band berbeda waktu itu, seperti: Badai Band, SYMPHONY, WOW!, Jakarta Rhythm Section, GIF, Transs, Superdigi dan entah berapa lagi? Selain main band dengan banyak grup, Fariz RM pun kebanjiran order  mencipta lagu, berpasangan duet nyanyi hingga mengaransir musik bagi banyak penyanyi. Dari Iis Sugianto, Ari Koesmiran, Andi Meriem Matalatta, Ebiet G. Ade hingga Vina Panduwinata pernah memakai jasa Fariz RM dalam berbagai keahliannya. 
Esai saya di KORAN TEMPO, medio: Januari'15

       Seperti kata pepatah, sesuatu yang ada di dunia tiada yang abadi. Ada pasang ada surut. Begitupun yang terjadi pada diri Fariz RM. Perlahan namun pasti, kariernya meredup di pertengahan 90-an. Fariz RM pun “menghilang” bak ditelan Bumi. Tiba-tiba “muncul kembali” di tahun 2007. Masih menimbulkan kehebohan sebagaimana kemunculannya di tahun 1980 itu. Bedanya, di tahun 1980, Fariz RM mengguncang publik musik Indonesia dengan suguhan musik yang melompat melampaui zamannya. Tahun 2007, Fariz RM mengguncang publik dengan penangkapan dirinya karena tersangkut narkoba! Ya, saat itu Fariz RM terpaksa mendekam di sel karena kepemilikan ganja. Dengan kebijakan para hakim pengadilan yang menyidangkannya, Fariz RM “diampuni” dan dirujuk agar direhabilitasi dari ketergantungan pada narkoba. Selepas itu, Fariz RM bak terlahir kembali. Ia justru semakin sering tampil di panggung-panggung maupun layar kaca daripada sebelum terciduk aparat karena narkoba. Berbagai raihan prestasi sempat Ia dulang lagi bak era keemasannya dulu. Salah satu yang prestisius adalah Fariz RM dinobatkan Majalah Rolling Stone sebagai salah satu dari “25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Sejarah” atau “The Immortals” (Yang abadi) di tahun 2008. Nyaris sejak keluar dari sel di awal 2008 hingga Desember 2014, Fariz RM tanpa jeda main musik di mana-mana.
      Dan, roda pun berputar ulang. Tanggal 6 Januari 2015, selang sehari setelah dirinya merayakan ulang tahun ke-56, Fariz RM kembali ditangkap polisi di rumahnya. Oleh Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan, dirinya disangka menggunakan narkoba jenis heroin, ganja, dan sabu. Apa yang ada dalam lirik lagu “Lensa Kamar Putih” milik Fariz RM di awal tulisan ini, memberi gambaran bahwa narkoba nyata dalam meracuni, mengubur dan menenggelamkan para pemakainya. Bakat, karakter, harta serta raga semua tergadaikan demi mimpi semu yang ditawarkan narkoba. Kiranya tepat, apa yang disampaikan Presiden Jokowi dalam kuliah umumnya di UGM (9/12) bahwa negeri ini berada dalam darurat narkoba. Jokowi pun bertekad memerangi narkoba dengan tidak memberikan grasi pada pengedar narkoba.  
Danang Probotanoyo, Centre for Indonesia Reform Studies, Alumni UGM

Minggu, 16 November 2014

Patriotisme Tionghoa untuk Republik



Judul Buku : TIONGHOA DALAM SEJARAH KEMILITERAN
Pengarang  : Iwan Santosa                                                               
Resensiku Termuat di Jawa Pos, Edisi: November 2014
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Cetakan       : I, 2014
ISBN           : 978-979-709-871-1
Tebal Buku : xxxviii + 234

Oleh: Danang Probotanoyo
     Berbicara etnis Tionghoa (dulu disebut “China”), tak akan lari jauh dari topik dagang dan situasi kerusuhan SARA yang pernah melanda republik. Lainnya hanya mengingatkan orang pada beberapa sosok pebulu tangkis handal Indonesia. Dalam hal dagang Tionghoa sangatlah dominan. Selain sudah turun temurun,  berbagai politik diskriminasi yang menimpa mereka sejak zaman VOC hingga  Orde Baru,  menempa Tionghoa sebagai pedagang dan pebisnis handal.   
      Aturan Wijkenstelsel dan Passenstelsel VOC  mencegah interaksi Tionghoa dengan pribumi. Aturan itu mengakibatkan Tionghoa “terisolasi” di kantong-kantong pemukiman di perkotaan,  dikenal sebagai Pacinan. VOC memberlakukan aturan itu sebagai buntut pemberontakan Tionghoa (yang dibantu etnis Jawa) di tahun 1740-1743.  Peristiwa “Geger Pacinan” tersebut dipicu adanya pembantaian Tionghoa di Batavia pada tahun 1740. Menurut tesis Sejarawan Belanda, Noorduyn, “Geger Pacinan” menjadi awal serangkaian panjang perang di Jawa. Bahkan dari skalanya, “Geger Pacinan”  dikatakan lebih besar dari Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830). Entah karena apa, perang tersebut dilupakan (dihapuskan?) dalam sejarah Nasional. Hingga muncul buku Daradjati berjudul “Geger Pacinan” (2008), yang menguak  kembali pemberontakan Tionghoa itu.
     Di era Orde Lama, kebijakan diskriminatif terhadap Tionghoa masih terjadi. Contohnya PP No. 10 tahun 1959, berisi larangan  Tionghoa berdagang eceran di luar wilayah ibukota provinsi dan kabupaten. Di zaman Orde Baru nasib Tionghoa lebih buruk lagi. Selain dilarang menyelenggarakan berbagai tradisi seni dan budaya leluhur, rezim Orba menerbitkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia ( SBKRI), untuk etnis Tionghoa.
Resensiku di Jawa Pos, Edisi: November 2014

       Sejarah kelam diskriminasi terhadap Tionghoa dari masa ke masa berkelindan dengan nasib buruknya sebagai korban pelbagai kerusuhan. Paling mutakhir adalah kerusuhan Mei 1998, yang mengakibatkan kerugian harta benda bahkan nyawa etnis Tionghoa. Selalu menjadi korban diskriminasi dan obyek kerusuhan sejak VOC hingga Orba, menyiratkan ada yang salah dalam memandang etnis Tionghoa. Banyak yang masih melihat etnis Tionghoa sebagai entitas pendatang. Meskipun sudah bergenerasi terlahir di Indonesia, tetap saja ada “barier dikotomis” pribumi dan nonpribumi.     
       Dengan membaca buku ini niscaya akan mendapatkan fakta-fakta mencengangkan yang bisa membalikkan sikap dalam memandang Tionghoa. Buku ini setidaknya mampu menjungkirkan stereotype bahwa Tionghoa tak lebih dari para pedagang dan pemain badminton. Dalam bukunya ini, Iwan Santosa mengungkap kiprah etnis Tionghoa yang tak kalah dari pribumi dalam mendirikan dan mempertahankan eksistensi republik. Ternyata banyak Tionghoa terlibat langsung dalam perjuangan bersenjata merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Harian Merdeka, koran berpengaruh era 40-an, dalam memperingati enam bulan kemerdekaan RI, 17 Febuari 1946, menurunkan laporan khusus tentang pertempuran 10 November 1945 dengan judul “Pendoedoek Tionghoa Membantoe Kita”. Dituliskan bahwa sebagian Tionghoa Surabaya membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat) “Chungking” yang turut bertempur di garis depan pertempuran Surabaya. Pertempuran 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan,  dengan tokoh sentralnya “Bung Tomo”, memiliki  beberapa nama pejuang Tionghoa di sisi beliau. Pejuang Tionghoa itu tergabung dalam Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo. Tersebut  nama Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjok Tek sebagai ahli pyroteknik atau ahli amunisi dan peledak. (hal.93-95). Dalam pertempuran lain yang tak kalah heroik dengan Pertempuran Surabaya, yakni “Palagan Ambarawa” ada sosok pejuang terlupakan bernama Kho Sien Hoo. Sosok Kho Sien  ini diungkap ke permukaan kembali oleh Pramoedya Ananta Toer dalam ulasan buku biografi Ghanda Winata Bangkit Dan Pantang Menyerah: Kisah Nyata Inspiratif Seorang Prajurit, Pendidik dan Pebisnis Tionghoa (hal.101).
       Setelah perang usai, banyak pejuang Tionghoa melanjutkan karier kemiliterannya di TNI. Tak sedikit dari mereka hingga mencecap pangkat perwira. Bahkan penelitian Lie Ay Mei dari Amsterdam, berjudul “Uniform in Diversity”, didapatkan data bahwa tahun 60-an jumlah perwira TNI bersuku Tionghoa mencapai persentase sama dengan jumlah penduduk Tionghoa di Indonesia, yakni 2-3 persen (hal.206). Sayangnya, karier cemerlang sebagian Tionghoa di TNI meredup akibat meletusnya G-30 S/PKI. Rezim Orba yang berkuasa pasca peristiwa itu mencurigai keterlibatan etnis Tionghoa. Kecurigaan keterlibatan Tionghoa pada G-30 S/PKI sesungguhnya hanya dilihat berdasar “kemesraan” RI-Tiongkok di era itu. Imbasnya, banyak TNI etnis Tionghoa yang kariernya terhenti atau malah keluar dari dinas kemiliteran. Selebihnya tetap berkarier di militer dengan tenaga ekstra agar tetap survive.
      Semua kesalahan masa lalu terkait Tionghoa mulai diperbaiki di era reformasi. Puncaknya adalah penganugerahan gelar pahlawan nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana kepada almarhum Laksamana Muda (purn) John Lie, pada 9 November 2009, oleh Presiden SBY. Bahkan simbol heroisme Tionghoa, yang diwakili John Lie, disematkan sebagai nama kapal perang terbaru TNI AL, yakni KRI John Lie. Buku berjudul “Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran” karya Iwan Santosa ini menjadi dokumentasi penting patriotisme Tionghoa dalam kancah kemiliteran republik yang pada gilirannya bisa membuat orang memiliki perspektif positif pada Tionghoa. 
Danang Probotanoyo, Centre for Indonesia Reform Studies, Alumni UGM

Selasa, 04 November 2014

Legenda Itu Bernama Koes Plus


Resensi Saya Termuat di Kedaulatan Rakyat, Medio: Nov 2014

 Judul Buku       : Kisah dari Hati, Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia
Penerbit            : Penerbit Buku Kompas
Penulis              : Ais Suhana
Catakan             : I, 2014
Tebal Halaman : xxv + 230
ISBN                 : 978-979-709-825-4

Oleh: Danang Probotanoyo
      Orang Indonesia, khususnya usia 30 tahun ke atas, tentu sangat mengenal nama Koes Plus.  Band Koes Plus menjadi salah satu ikon dan pelopor musik Indonesia modern. Dalam majalah Rolling Stone,  November 2008, Koes Plus ada di urutan pertama dalam 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Banyak lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara (sebelum menjadi Koes Plus) menyatu dengan nadi kehidupan masyarakat. “Kapan-Kapan”, “Bis Kota”, “Kolam Susu”, “Cubit-Cubitan”, “Bujangan” dan “Diana” adalah sedikit contoh lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara yang melegenda. Apa yang menyebabkan Koes Plus dan Koes Bersaudara sangat melegenda? Kepeloporan, kesederhanaan dalam berkarya serta karya musik mereka yang melintas berbagai sekat yang ada, itulah penyebabnya.  
     Band Koes Plus yang dibentuk tahun 1969 merupakan kelanjutan Band Koes Bersaudara yang dikenal pada medio 1962. Awalnya, Koes Bersaudara terdiri lima bersaudara anak Koeswojo asal Tuban, Jatim. Mereka: Koesdjono (John Koeswojo), Koestono (Tonny Koeswojo), Koesnomo (Nomo Koewojo), Koesjono (Yon Koeswojo) dan Koesrojo (Yok Koeswojo). Koes Bersaudara  merupakan cikal bakal grup band di Indonesia. Awal tahun 60-an, musik Indonesia diramaikan penyanyi-penyanyi solo. Kemunculan Koes Bersaudara menjadi oase tersendiri. Meski ada pengaruh kuat dari Kalin Twin dan The Everly Brothers, namun Tonny Koeswojo selaku inspirator serta motor penggerak Koes Bersaudara tak serta merta menjadikan bandnya sebagai epigon. Tonny menancapkan gagasan revolusioner yang tak lazim kala itu dengan membawakan lagu karya cipta sendiri. Muncullah single evergreen macam: Bis Sekolah, Telaga Sunyi, Dara Manisku, Angin Laut dan Pagi yang Indah, yang merajai RRI (Radio Republik Indonesia) kala itu. Koes Bersaudara menyentak publik dan menggeser dominasi penyanyi single. Di titik itu, Koes Bersaudara menjadi band pertama yang sukses dalam rekaman. Tak lama berselang, John Koeswojo mundur karena berkonsentrasi kerja kantoran.  
 
KR, Medio: Nov 2014
   
Saat Koes Bersaudara merintis sukses,
dunia dilanda “wabah” rock n roll yang dipicu super grup: The Beatles. Koes Bersaudara ikut terjangkiti wabah itu. Apes, bagi rezim berkuasa, musik-musik yang dibawakan Koes Bersaudara dicap sebagai musik ngak-ngik-ngok, dekaden, antinasionalis, antirevolusi dan kebarat-baratan. Maklum, Soekarno saat itu sedang jengah dengan Nekolim (Neo kolonialiasme-imperialisme). Ujung-ujungnya, empat bersaudara Koes  dimasukkan Penjara. Itulah hal ihwal Koes Bersaudara masuk penjara yang diketahui publik selama puluhan tahun. Dalam buku ini, Yok Koeswojo mengungkapkan motif pemenjaraan Koes Bersaudara yang sesungguhnya. Menurut Yok, Koes Bersaudara dijebloskan ke penjara hanyalah siasat intelijen dalam rangka persiapan dikirim ke Malaysia. Mereka direkayasa seolah-olah dimusuhi rezim. Skenarionya: setelah dibebaskan, mereka akan dikirim ke Malaysia. Mereka akan dijadikan “duta” untuk mengukur animo masyarakat semenanjung Malaya terhadap ide pembentukan Federasi Malaysia. Sekaligus mengukur seberapa jauh rakyat Malaysia mencintai atau membenci Indonesia (hal 2). Itu terkait dengan politik Ganyang Malaysia” yang diserukan Soekarno. Ide pengiriman Koes urung sebab terjadi G-30S/PKI. Awalnya Koes Bersaudara tak menyadari scenario rahasia itu. Sekeluar penjara, kondisi politik dan ekonomi negara berantakan akibat peristiwa G-30 S/PKI. Nomo Koeswojo hengkang dan mencari penghidupan lain. Tonny Koeswojo dan adiknya yang tersisa tetap berkarir di musik. Direkrutlah Kasmuri, akrab disapa Murry, sebagai drumer pengganti Nomo. Tonny menyebut band “barunya” sebagai Koes Plus: Koes (bersaudara) Plus (Murry). Masuknya Murry menginspirasi Tonny memberi warna lain musiknya dibanding semasa Koes Bersaudara. Awalnya untuk mengakomodasi tipikal drumming ala Murry yang cadas dan keras (hal 125). Meski “reinkarnasi” Koes Bersaudara, kemunculan Koes Plus awalnya disambut dingin publik. Album Volume I Koes Plus jeblok di pasaran. Piringan hitamnya menumpuk di gudang perusahaan rekaman. Sampai kemudian ada event Jambore Grup Musik di Senayan yang merubah segalanya. Di tengah hingar bingar musik Deep Purple dan Led Zeppelin yang dimainkan grup lain, Koes Plus justru mendendangkan “Derita” serta “Manis dan Sayang” ciptaan sendiri. Publik terpukau oleh penampilan Koes Plus. Mereka lantas menjadi headline surat kabar dan majalah. Album Volume I tak jadi berjamur di gudang recording. Gempuran musik Koes Plus tak terbendung. Album demi album mengalir deras, menyemburkan hits-hits legendaris, macam: Kisah Sedih di Hari Minggu, Cintamu Tlah Berlalu, Bujangan dan masih banyak lagi. Seolah membayar lunas tuduhan sebagai pengusung musik “ngak-ngik-ngok” di masa lalu, mereka meluncurkan tembang-tembang cinta tanah air serial “Nusantara”.
      Kepiawaian Koes Plus yang sulit tertandingi adalah penjelajahan mereka melintasi genre musik dan sekat sosial. Selain berkutat di genre pop, Koes Plus tak sungkan memasuki dunia keroncong, pop Melayu, pop Jawa hingga pop anak-anak. Mereka pun tak canggung melintasi sekat agama. Dibuatlah album Qasidah hingga album Natal. Booming Koes Plus memunculkan kecemburuan dari berbagai pihak. Musik Koes Plus dicap “kacangan”, sekedar mengandalkan 3 jurus (kunci). Tonny menangkis dengan jitu atas tudingan itu, “Silahkan buat musik tiga jurus, dan buktikan karya anda diterima masyarakat!” katanya lantang. Nyatanya, tak ada yang sanggup melampaui pencapaian Koes Plus. Dominasi Koes Plus atas musik Indonesia sepanjang dekade 70-an menyurut di era 80-an. Puncaknya adalah kematian sang inspirator dan motor Koes Plus, Tonny Koeswojo, pada tahun 1987. Bak anak ayam ditinggal induknya, Koes Plus pun mati suri nyaris satu dekade. Beruntunglah, ada Ais Suhana (penulis buku ini) selaku penggemar berat Koes Plus sejak tahun 70-an, yang mengangkat moral anggota Koes Plus tersisa untuk bangkit kembali. Pelan tapi pasti, roh Koes Plus kembali hadir di panggung hotel-hotel, cafe-cafe dan beberapa single rekaman. Paling tidak itu cukup sebagai pengingat generasi berikutnya bahwa Indonesia pernah memiliki grup musik yang serba plus. Buku karya Ais Suhana ini sangat penting, bukan hanya menguak lika-liku perjalanan Koes Plus yang tak terungkap sebelumnya. Lebih dari itu, buku ini menambah khasanah referensi musik nasional yang memang sangat langka.
Pencinta dan Kolektor Musik Indonesia