Berpikir-Menulis

Berpikir-Menulis

Kamis, 27 Agustus 2015

Makelar Mobil Berdandan Necis



 Oleh: Danang Probotanoyo
Termuat di Harian Joglosemar, Medio: Agustus 2015
    Dul Kenthut dan Jim Belong bersahabat sejak mahasiswa di Jogja. Meski bersahabat, mereka kerap cekcok juga. Apalagi Si Dul Kenthut memiliki sifat jahil yang tak ketulungan. Berulangkali Dul Kenthut membuat Jim Belong dongkol. Tapi kedongkolan itu biasanya hanya sekejap dan tak pernah dimasukkan ke dalam hati. Makanya persahabatan mereka awet hingga keduanya lulus kuliah, bekerja dan menikah. Keduanya tetap tinggal di kota Jogja. Jim Belong bekerja di perusahaan ekspor-impor. Sedangkan Dul Kenthut sebagai dosen di sebuah PTS. Dul Kenthut hidup terpisah dengan istrinya yang sedang PTT di Pontianak. Tak heran setiap Dul Kenthut mendapat undangan manten, ia  mengajak Jim Belong.  

     Seperti di minggu pagi itu, Dul Kenthut menyambangi rumah Jim Belong. Ia berkemeja batik lengkap dengan sepatu. Berkatalah Dul Kenthut, “Jim temani aku njagong manten, yuk!” Singkat cerita, Jim Belong telah berada di dalam mobil Dul Kenthut. “Wah, kemajuan, sekarang naik mobil,” Jim Belong menggoda. “Masa motoran terus,” balas Dul Kenthut. Di tengah jalan Dul Kenthut berhenti di sebuah mini market, membeli dua botol air minum. “Lho untuk apa beli air minum? Bukankah di tempat jagong nanti kita bisa makan dan minum sepuasnya?” tanya Jim Belong.  “Sudah diam saja,” jawab Dul Kenthut cuek. Lima belas menit kemudian sampailah mereka di pelataran TVRI Jogja yang setiap minggu dipakai ajang jual beli mobil bekas. “Ah, sialan, ini sih bukan nemenin kamu jagong manten, tapi nemenin kamu makelaran mobil!” Dul Kenthut tertawa terbahak-bahak, untuk kesekian kalinya berhasil mengerjain Jim Belong.
*Nama tokoh diganti oleh redaktur Joglosemar

Minggu, 12 Juli 2015

Ramadan dalam Naungan Kamboja



Oleh: Danang Probotanoyo
Cerpen Saya di Minggu Pagi, Medio: Juli 2015
       Ramadan 1436 H. kali ini bagi Muzdalifah hanya mengulang Ramadan tahun-tahun yang lalu. Makan sahur sendiri tanpa ditemani Fajar, suaminya. Meski Muzdalifah ikhlas menjalani, namun hatinya gundah melihat kekerasan hati Fajar yang sudah tiga tahun tak lagi bersantap sahur di rumah bersamanya. Di keramaian suasana Ramadan di kampung-kampung seantero negeri, kesunyian justru memagut batin Muzdalifah. Sedih, sesal, pasrah dan ikhlas melebur jadi satu.  

      “Kau tahu, di Ramadan itu kita kehilangan segalanya! Milik kita yang paling berharga  kini tiada lagi. Kita kehilangan harapan, Bu!” kalimat kegusaran Fajar yang selalu diulang-ulang.

Masih terngiang-ngiang Ramadan tiga tahun lalu sehabis bersantap sahur, Rudy berpamitan kepada ayah dan ibunya untuk menunaikan shalat subuh di Masjid Agung, kotanya.

      “Kenapa mesti di Masjid Agung, Rud? Masjid An-Nur kampung kita kan cukup,” ujar Fajar kepada anaknya.

      “Sekarang kan hari Minggu. Sekali-kali Rudy ingin merasakan suasana Ramadan di waktu subuh di Masjid Agung,” Rudy merajuk ke ayahnya.

      “Sesekali nggak apa-apa, Pak. Rudy kan sudah besar, sudah kelas dua SMP. Bisa menjaga dirinya sendiri,” Muzdalifah mencoba meyakinkan Fajar.

      “Iya, maksudku di masjid kampung kita kan sudah cukup, nggak perlu jauh-jauh ke Masjid Agung di alun-alun itu,” Fajar mencoba berargumen.

Muzdalifah tersenyum melihat gelagat Fajar mulai luluh pertanda mengizinkan.
Cerpen Saya di Minggu Pagi, Medio: Juli 2015

      “Bersama siapa Kamu akan ke Masjid Agung, Rud?” tanya Muzdalifah.

      “Kami bertiga, Bu, bersama Agus dan Farid,” jawab Rudy sumringah.

      “Hati-hati di jalan! Pulangnya jangan terlalu siang ya!” pesan Muzdalifah.

Sambil menghampiri dan mencium tangan bapaknya, Rudy pun pamit.

      “Ingat pesan ibumu, Le,” pungkas Fajar datar.

      “Iya, Pak, jangan khawatir,” Rudy pun melangkahkan kaki melewati ambang pintu depan rumahnya. Di teras  sudah menunggu Agus dan Farid, teman sekampungnya.

     “Gimana, Rud, bapakmu membolehkan Kamu pergi, kan?” tanya Agus was-was.

     “Iya, Rud, segede ini mestinya kamu tak dipingit lagi oleh bapakmu itu. Anak cowok, gitu lhoh,” ledek Farid.

     “Kalian lihat sendiri, aku tadi sudah cium tangan bapakku. Artinya ya diizinkan. Ayo, keburu adzan subuh. Kita masih harus jalan kaki dua puluh menit untuk sampai di alun-alun,” tukas Rudy. Tiga sekawan remaja tanggung itupun bergegas berangkat ke Masjid Agung.

Fajar tak jua beranjak dari meja makan menanti datangnya imsak sembari menghabiskan rokok di tangannya yang tinggal separuh. Sambil memunguti piring dan gelas kotor sisa makan sahur bertiga, Muzdalifah berkata kepada suaminya,

     “Rudy sekarang sudah besar, ya, Pak. Ada baiknya mulai kita beri kepercayaan. Jangan kita kekang-kekang lagi.”

      “Aku tak mengekangnya, Bu. Aku hanya ingin memastikan Rudy baik-baik saja. Aku tak ingin Rudy hilang dari pengawasan kita,” kilah Fajar sambil menyeruput teh panasnya.

     “Iya, Pak, aku sadar, Bapak sangat sayang pada Rudy. Begitupun aku terhadapnya. Tapi sekarang Rudy sudah bukan anak kecil lagi. Sewajarnya bila kita memberi kebebasan layaknya teman-teman sebayanya. Takutnya Rudy nanti menjadi anak minder, lho, Pak,” Muzdalifah mengingatkan suaminya.

      “Kamu harus ingat, Bu, betapa kita mesti menunggu sangat lama kehadiran Rudy di tengah-tengah kita. Sepuluh tahun rumah tangga kita sepi tanpa kehadiran seorang anak. Berbagai upaya telah kita tempuh, tapi anak yang kita dambakan tak jua hadir. Baru di tahun kesebelas perkawinan kita, dokter Heru memberi kabar baik tentang kehamilanmu itu. Kalau akhirnya Rudy menjadi satu-satunya keturunan kita, sudah sangat wajar bila aku selalu menjaganya, karena aku sangat sayang padanya melebihi apapun juga.”

Meski dalam hatinya ada sedikit ketidaksetujuan pada pandangan suaminya, namun Muzdalifah tak ingin berdebat lebih lama lagi. Apalagi waktu imsak tinggal lima menit.

     “Hampir imsak, Pak, rokok dan tehnya segera dihabiskan,” ingat Muzdalifah.

***

Seusai salat subuh dan mendengarkan ceramah seorang kyai besar di kota itu, Rudy dan kawan-kawannya beranjak dari halaman Masjid Agung yang persis bersebelahan dengan alun-alun kota. Suasana selepas subuh itu sangat ramai di alun-alun. Pemandangan yang biasa dijumpai selepas subuh di pusat kota. Apalagi hari itu bertepatan dengan hari minggu. Banyak orang – yang  sebagian besar anak muda – berjalan-jalan mengitari alun-alun atau sekadar bergerombol duduk-duduk di trotoar. Di sana-sini terlihat beberapa remaja menyalakan petasan penambah kemeriahan suasana. Ratusan hingga ribuan remaja, dewasa hingga orang tua lainnya nampaknya tengah menunggu sesuatu.  

Rudy ingin bergegas pulang, teringat pesan ibunya. Tapi Agus dan Farid memiliki rencana lain.

       “Ayolah, Rud, jangan buru-buru pulang. Kapan lagi Kamu memiliki kebebasan seperti pagi ini?” bujuk Agus kepada Rudy.

      “Iya, Rud, mumpung kita sekarang ada di alun-alun. Sekali-kali nonton hiburan gratis yang menegangkan ini. Kapan lagi bisa begini kalau tidak pas Ramadan?” timpal Farid.

Pada mulanya Rudy enggan menuruti kemauan kedua temannya itu. Namun kalau harus pulang sendirian tanpa keduanya, Rudy juga tak mau. Terpaksalah Rudy menunda kepulangannya dan hanyut dengan ribuan orang di alun-alun itu bersama Agus dan Farid.


***

Hari ini hari Minggu, hari ke tujuh belas Muzdalifah berpuasa. Sang Surya perlahan menuju peraduannya di cakrawala barat. Setelah menanak nasi dan membuat teh bakal buka puasa, Muzdalifah bergegas ke pemakaman desa. Kakinya melangkah menuju sudut barat makam di bawah pohon kamboja besar. Benar, disana sesosok lelaki yang mulai menua tengah duduk tertidur menyandarkan kepala pada sebuah pusara. Ia menghampiri lelaki itu, ditepuk-tepuk pundaknya dengan pelan. Setelah terbangun, Muzdalifah  membantunya bangkit berdiri dan memapahnya.

Fajar menggerutu, “Kaulah yang menyebabkan kita kehilangan anak satu-satunya, Bu! Seandainya tidak Kau cegah saat aku melarangnya ke Masjid Agung itu, tentu Rudy tidak menonton balapan liar di alun-alun hingga menyebabkan ajalnya tertabrak motor salah satu diantara  mereka.”

Muzdalifah membisu, diusapnya lelehan air mata sambil memapah pulang suaminya.  Sayup-sayup berkumandang azan maghrib.

Danang Probotanoyo
Pegiat Literasi & Sastra di “Kampung UGM”

Minggu, 14 Juni 2015

Cara Radhar Merayakan Demokrasi



Judul Buku : Manusia Istana, Sekumpulan Puisi Politik    
Resensi Saya di KORAN TEMPO, 14 Juni 2015

Pengarang  : Radhar Panca Dahana

Penerbit      : Bentang

Cetakan       : I, Maret  2015

ISBN           : 978-602-291-047-3

Oleh: Danang Probotanoyo
      Meski di pengantar buku bersampul gambar karikatur manusia menari berbalut warna dominan gelap yang artistik ini Radhar Panca Dahana tak menyinggung anniversary dirinya, namun tetap sah bila ada yang menuduh buku ini penanda lustrum kesepuluh sang penulis. Maret, di bilangan 26, bertahun “wingit”: 1965, Radhar Panca Dahana mengejawantah manusia sempurna setelah dalam peraman gua garba Ibundanya sembilan bulan. “Manusia Istana” menjadi buku kumpulan puisinya yang ke-5 dari total 21 buku penerima “Le Prix des pays Francophonique” (award “persemakmuran” bekas koloni Perancis) itu. Maklum, Radhar adalah sosiolog lulusan Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis. “Manusia Istana” menjadi adik “Lalu Aku”, buku  puisinya yang lahir 2011 silam.

      Meski belum setua sastrawan Sapardi Djoko Damono atau Taufik Ismail, petualangan Radhar di ranah sastra bertunas sejak belia. Bayangkan, usia 10 tahun telah berhasil menembus keangkeran “screening” redaktur desk cerpen Kompas. “Tamu Tak Diundang” nyatanya terundang sebagai tamu lembar cerpen Kompas kala itu. Ketika ibunya menancapkan selosin lilin di kue ulang tahunnya, Ia sudah didapuk menjadi redaktur tamu di majalah Kawanku. Hanya orang sirik yang mendustakan pengakuan bahwa Radhar kecil adalah “anak ajaib”. Talenta Radhar tidaklah mekar bersiram fasilitas apalagi support orang tua, khususnya sang ayah. Ayahnya, sebagaimana Brotoatmojo – ayah Willybordus Surendra Bhawana Rendra Brotoatmojo, alias W.S Rendra  – adalah tipikal ayah keras, yang meyakini penyair bukanlah profesi menafkahi. Mungkin “roh” Plato yang menuding penyair sebagai warga kelas dua dan lebih inferior dibanding intelektual (baca: filsuf) pernah merasuki kedua ayah sastrawan kita itu. Entahlah. Minggat dari rumah menjadi ritual  Radhar dan Rendra muda saat dalam tekanan ayah masing-masing. Bumbu kekerasan fisik ayah terhadap anak menjadi pembeda nasib Radhar dan Rendra. Betapa Radhar muda sudah katam diterjang kerasnya tangan sang ayah. Phobia ayunan  tangan sang ayah, membuat Radhar bergidik dan menyaru menjadi Reza Mortafilini di media massa. Tangan sang ayah rupanya memiliki radar penjejak yang canggih. Kamuflase Radhar muda terdeteksi sudah. “Tak ada demokrasi di sini!” begitulah kalimat penutup Radhar muda dengan bibir berdarah kala oncat dari rumah untuk kesekian kali. Di titik ini Rendra sedikit lebih “mujur”.  


      De Javu, teriakan “Tak ada demokrasi di sini!” manifesto “politik” Radhar muda menghadapi otoritarianisme ayahnya, berinkarnasi dalam “Manusia Istana”. Tiga puluh satu judul puisi berlumuran tema politik menyiratkan itu. Bukan lagi perlawanan terhadap ayahandanya, tapi “umpatan” kekesalan Radhar terhadap segala penyimpangan berhela kepentingan dan kelompok politik negeri ini. Politik yang mestinya menjadi piranti untuk mewujudkan cita-cita bangsa justru kerap beralih fungsi sebagai pisau pembelah anak bangsa di tangan politisi banal. Bak anak kecil main perang-perangan: bersekutu merebut menang.  Begitupun politisi kita hari ini: berkubu merebut bangku kuasa. Masing-masing kelompok merasa benar sendiri bahkan merasa paling berhak atas negeri, terwujudlah laku korupsi. Nilai kegotong-royongan dan kebersamaan yang terformulasikan “jimat” Pancasila buah karya founding fathers, menjadi teks semata tanpa pemaknaan.

Ini negeri/ bakal runtuh dan belah/bila yang lima kau pecah/bila sila silanya berbuah serapah (“Warisan Akhirmu Soekarno” hal: 43).

     Demokrasi yang tereguk sebagai buah perjuangan dan pengorbanan anak-anak muda di tahun ’98, tidaklah hakiki. Sekadar demokrasi formalitas, tapi nihil esensi. Demokrasi hanya sebatas kontestasi pencoblosan gambar di ruang kedap mata. Setelah seremoni dengan imbalan tinta di jari, orang terpilih justru amnesia daulat dan amanat rakyat. Sesumbarnya: “kami petugas partai!” Daulat rakyat berganti daulat partai, daulat ketua umum bahkan daulat makelar politik penyokong kapital.  
Resensi Saya di KORAN TEMPO, Edisi: Juni'15

Pemilihan besar ini sekadar opera/dengan aktor aktor yang hina/ sutradara durjana dan musik yang genit membuat lupa/ /juragan juragan picik tak sabar menunggangi sejarahmu/ menguliti habis kuasamu/ memeras kering harta rakyatmu/ inikah arti pesta itu?/ tangis berjuta di kakimu?/ inikah hasil kemenangan itu?/ Kontrak kontrak politik, bisnis, garansi modal kekuasaanmu? (“Air Mata Umara 2”, hal: 71).

     Di buku ini Radhar  menyatroni nyaris semua isu politik yang bergentayangan di negeri para politisi ini. Bahkan yang teraktual Ia lumat tandas menjadi residual kata-kata artistiknya.

Cerita retorika dimainkan/ kebijakan diputuskan/ perdebatan digulirkan/ ramai benar rumah negara kita/ seolah benar negeri ini ditata/ tapi di ujung telepon/ atau sudut ruang pemerintahan

tekanan tawar menawar dan ancaman/ mendahului semua cerita/ melampaui segala prakira. (“Sejilid Komik Kritik Politik”, hal: 131). Puisi tadi boleh jadi pengisahan sengkarut pencalonan durjana bakal kepala bhayangkara. Bisa pula tidak. Terserah pembaca menafsirkannya. Toh, Paul Ricoeur sudah berwasiat bahwa teks bersifat polisemis, tergantung kita memaknainya.

     Buku puisi penanda Radhar Panca Dahana setengah abad ini sungguh paripurna. Sayangnya, di antara deretan tokoh yang “mengendorse” buku ini terselip satu nama yang mengganggu:  seorang politisi yang sedang dibui karena korupsi! Sayang!   

Danang Probotanoyo, Aktifis Literasi dan Sastra “Komunitas Kampung UGM”

Kamis, 30 April 2015

Cicak dan Buaya Kanibal



Oleh: Danang Probotanoyo

 
sumber gambar: porosberita.com
      Bicak mengendap-endap. Sudah setengah jam ia mengincar nyamuk Aedes itu. Selama itu pula ia selalu gagal. Perutnya sudah terlalu lembek seharian tak terisi. Nyamuk itu sepertinya mulai kelelahan. Perutnya membuncit sarat beban darah golongan O. Sudah setengah jam ia terbang-menclok tanpa henti, menghindari Si Bicak. Kali ini Bicak tak mau gagal lagi. Bicak pun beringsut sedikit demi sedikit. Di depannya ada sebuah saklar yang begitu dekat dengan nyamuk itu. Ia mengintai dari balik saklar. Siip, dia tidak tahu aku sembunyi di sini. Pada hitungan ketiga aku harus meloncat dan menyergapnya. Satu, dua, dua setengah, tiga! Hup! Byur..! Saking keras dan semangat meloncat, Bicak kehilangan orientasi dan tak dapat menolak sang gravitasi. Bicak gelagapan karena terjatuh dari dinding dan masuk ke dalam tempayan air di bawah. Sang nyamuk pun berlalu penuh kemenangan. Sukurin deh lu! Emangnya enak nyilem disitu, ejeknya. Bicak megap-megap hampir kehabisan nafas, mencoba berenang untuk menjangkau tepian tempayan. Awas kau nanti, nyamuk sialan! Bicak berhasil mencapai “daratan” dengan lemas merayap naik ke dinding lagi. Aneh! air tempayan itu air ajaib! tubuhku menjadi enteng setelah masuk kedalamnya, gumam Bicak.

“Hahaha, dasar Cicak bodoh! Bukannya Kamu menjadi enteng, bodoh! Tapi knalpotmu      ketinggalan di tempayan itu! Seru Si Susya, Sang Buaya, “Lumayan, bisa untuk hidangan penutupku nanti.”

“Dasar makhluk rakus, bukan hanya yang besar-besar saja yang Kamu telan, buntutku yang tak seberapa pun kamu ada melek untuk memenuhi ususmu yang tak berujung itu, dasar serakah,” omel Bicak, “jangan harap kamu akan memperoleh apapun dariku, kadal primitif!”

Sekejap Bicak pun sudah berada di mulut tempayan itu, untuk mengambil buntutnya lagi dan dibawanya lari ke atas.

“Ambil saja kalau Kamu mau! Nih, ambil sendiri secara gratis, he,he,…,” kata Bicak, sambil meletakkan potongan buntutnya di atas talang air yang menempel di dinding. Bicak pun istirahat di atas talang itu, badannya teramat penat sehabis bekerja keras. Dalam kondisi setengah tidur, dia mendengar suara, meong, meong. Ah, berisik amat, nggak tahu orang, eh, cicak lagi istirahat begini, gumam Bicak, sambil matanya meredup. Tampak seekor kucing angora mendekati bibir kolam untuk minum. Susya menenggelamkan seluruh badannya ke dalam kolam.

“Ssst, ada makanan ekstra gratis!” bisik Susya kepada para koleganya di kolam itu.Yang lainnya pun ikut mengintai di belakang Susya. Mereka tak berani untuk melangkahi Susya, karena di kolam itu Susya paling senior dan paling besar tubuhnya. Dia sebagai pemimpin di kolam Buaya itu. 

Sambil menjulurkan lehernya, sang kucing menjilat-jilat air di tepian kolam. Dahaga membuatnya tak waspada ada bahaya yang sedang mengintai. Susya berenang dalam kesunyian lebih mendekat ke arah sang kucing. Nampak air kolam di sekitar dia berenang ada semburat air putih kental, yang berasal dari lelehan air liurnya yang deras keluar. Jarak tinggal sejengkal, dan, Hap! Susya berhasil mencaplok kucing itu. Si kucing meronta hebat. Air kolam berkecipak gaduh, diselingi suara meong,meong, yang perlahan semakin melemah dan akhirnya lenyap. Susya tampak puas dengan rejeki nomplok itu. Lidahnya tampak berkelamutan ke kiri-kanan membersihkan moncongnya. Hoik, sesekali ia bersendawa. Kolega Susya di kolam hanya terbengong mengelilingi Susya. Mereka hanya bisa menelan ludah karena Susya tak sedikitpun menyisakan daging kucing angora yang lezat itu. Tak ada protes, karena semua takut dan menaruh hormat pada seniornya itu.

“Awas! jangan sekali-kali ada yang buka suara tentang hal ini, atau kalian akan aku beri hukuman disiplin! Ingat, aku adalah senior kalian! Akulah raja di kolam ini!” ancam Susya kepada buaya yang lain.

            “Baik Susya, kami akan tutup mulut untuk ini,” kata mereka serempak.  

“Bagus, itu baru anak buah yang baik, jagalah kehormatan korps kita, korps buaya!” ujar Susya.

Tanpa disadari oleh mereka, ternyata ada saksi kunci yang menyaksikan pembantaian tadi. Bicak yang semula tidur menjadi terbangun mendengar kegaduhan dan erangan si kucing tadi. Dia menyesal karena tidak sempat memberi peringatan pada kucing itu. Nasi sudah menjadi bubur.

“Ck, ck, ck, dasar rakus, tak cukupkah bebek dan ayam yang diberikan Pak Boye setiap harinya untukmu, buaya rakus!” seru Bicak sambil berkacak pinggang di atas talang.

Kawanan buaya itu pun terperanjat. Bicak yang dikira sudah tertidur ternyata menyaksikan kejadian memilukan itu. 
Cerpen Karya: Danang Probotanoyo, Medio: 2010


“Dasar Cicak jelek, ngiri ya, ngiri ya?! Urus saja dirimu sendiri, jangan campuri urusan makhluk  lain,” hardik Susya.

“Tidak bisa! Ini sekarang sudah menjadi urusanku, buaya tamak, ketahuilah bahwa kucing yang kau telan tadi adalah milik Jelita, anak Tuan Bambang, pemilik kolam dan seluruh areal disini,” kata Bicak.

“Awas! kalau macam-macam kutelan bulat-bulat kamu nanti! Jangan pernah coba-coba dengan kami! Tidakkah kau lihat, kau mahluk kecil dan lemah tak akan bisa melawanku yang gede dan punya taring banyak,” Susya mencoba mengintimidasi.

“Lagian, kamu tidak mempunyai bukti apapun! He,he,” ejek Susya.

“Bagaimana dengan cap kaki kucing di lumpur tepi kolam dekat moncongmu itu? Ups, aku keceplosan,” sesal Bicak.

“Bagaimana dengan ini? He,he...,” ujar Susya sambil kaki depannya mengais-ngais  menghilangkan tapak kucing di atas lumpur itu.

“Jangan merasa menang dulu. Nanti kamu menyesal,” ujar Bicak.

Bicak tersenyum menyimpan kemenangan, dia melihat ada segenggam bulu kucing yang menyangkut di sulur tumbuhan air di tengah kolam itu. Yes! matilah kamu nanti buaya jahat. Bicak pun melanjutkan istirahatnya.

Pus, pus, pus.., dimana kamu, pus? terdengar seorang lelaki setengah tua memanggil-manggil dari kejauhan. Lama-lama suaranya semakin keras mendekat ke kolam. Bicak terbangun karena teriakan lelaki itu.

“Sebentar lagi tamat riwayatmu Susya!  Pak Boye datang kemari,” seru Bicak.

“Alah, seperti kataku tadi, yang penting bukti! Kesaksianmu tak akan laku! Hukum pada manusia lebih mementingkan bukti daripada saksi, he,he,” Susya terkekeh.

“Nanti aku bisa memberi bukti kepada Pak Kohir, bahwa kau telah menelan Kucing itu, lihat saja nanti,” tukas Bicak.

“Apakah ini yang kamu maksudkan dengan bukti itu, he, he,” ejek Susya, sambil memegang sekepalan bulu kucing yang tadi nyangkut di sulur tanaman.

“Lihat dengan mata sipitmu itu! Sebentar lagi satu-satunya bukti yang tersisa akan lenyap, he,he..,” Dan, hup, Susya menelan bulu-bulu itu.

“Bagaimana cicak? Ternyata kamu tak lebih pintar daripada aku, kan? He, he.”

“Sekarang kamu merasa menang, tapi percayalah, kejahatan tidak akan pernah menang selama bumi masih berputar! Tidak ada kejahatan yang sempurna!” Bicak mengingatkan.

“Ah, suka-suka kamu lah. Yang penting aku menang, titik!”

Pak Boye masih mencari kucing itu di luar tembok pagar kolam. Seperti biasa, Bicak sesekali turun ke bibir tempayan air untuk minum. Apalagi mulutnya kering setelah berdebat dengan Susya. Ketika dia turun ke bagian dalam tempayan, tanpa disadarinya bahaya sedang mengintai. Susya yang telah mengawasi Bicak sejak tadi, diam-diam merayap naik ke darat. Bicak melihat,   siap meloloskan diri. Terlambat, dia kalah cepat. Dengan sigap Susya menerjang tempayan itu hingga terbalik dan tertelungkup. Bicak terperangkap dalam tempayan yang terbalik. Dia gelagapan dalam kegelapan.

“Hooey, keluarkan aku! Apa salahku kepadamu?” teriak Bicak dari dalam tempayan.

“Seperti aku bilang tadi, kamu mahluk kecil dan lemah, jangan sekali-kali melawan kami para Buaya yang perkasa ini! Ha, ha, rasakan, kau berhasil aku perdaya dan aku jebak. Meringkuklah di dalam situ,” kata Susya sambil terkekeh. Susya kembali ke air, sedang Bicak terkurung dalam tempayan.

Tidak berapa lama kemudian Pak Boye telah sampai di tempat itu. Sambil mencari-cari kucing itu disana. Pus, pus, pus.

“Hey, para buaya, apakah kalian melihat ada seekor Kucing kemari?” tanya Pak Boye.

“Sedari tadi tak ada satu mahluk selain kami yang ada di sini,” jawab Susya sambil memberi isyarat kepada teman-teman buayanya.

“Ya, benar. Sejak tadi hanya ada kami disini,” seru para buaya kompak.

“Baiklah kalau begitu,” kata Pak Boye sambil berlalu dari situ.

Dari celah sempit, bibir tempayan yang sedikit cuil, Bicak menyaksikan kemenangan Susya dan kawan-kawan. Sebenarnya Bicak sudah berteriak-teriak kapada Pak Boye, tapi suaranya terlampau pelan dari dalam tempayan. Dasar para buaya licik! gerutu Bicak dari dalam.

Dua jam setelah itu datanglah rombongan Pak Boye, Tuan Bambang dan beberapa lelaki lainnya. Mereka melihat semua buaya yang ada di kolam itu. Dihitungnya satu persatu.

“Pak Boye, kali ini siapa yang layak kita ambil,” kata Tuan Bambang.

Sejenak Pak Boye menyapukan pandangannya ke arah semua buaya yang ada di kolam.

“Itu, yang disana itu, Tuan, dia buaya paling besar dan paling senior di kolam ini,” seru Pak Boye.

Ya, akulah yang paling besar, paling kuat dan paling senior disini, pilihan kalian tak salah. Gumam Susya dalam hati.

“Lihat cicak malang, akulah yang dipilih mereka untuk menerima penghargaan itu,” ujar Susya dengan penuh kesombongan.

“Ya, dipilih, diambil dan tak pernah kembali lagi kesini,” desis Bicak dari dalam tempayan.

“Janganlah kau ngiri terhadapku! Seperti yang sudah-sudah, buaya-buaya itu tak ingin kembali lagi kesini, karena terlalu menyenangkan di tempat yang baru,” ejek Susya.

“Itu kan maumu. Aku lebih tahu dari kamu,” jawab Bicak kalem.

Susya pun digiring naik ke dalam pick up, menuju tempat yang menyenangkan menurut pikirannya sendiri. Susya dibawa ke satu gedung tua tak jauh dari tempat itu. Sayang, Susya tidak bisa membaca tulisan di depan pintu gedung itu, yang berbunyi “Bangsal Penyembelihan dan Pengulitan Buaya”. Pick up masuk gedung. Dan, setengah jam kemudian terdengar dengusan nafas terakhir seekor buaya. Hening untuk beberapa saat, sampai terdengar teriakan kencang dari Tuan Bambang,” Bangsat! Buaya jelek ini telah memakannya!”

“Boye, buaya sialan ini telah memakan kucing anakku! Aku tak sudi memakai dagingnya untuk restoran sate buaya milikku! najiiiiis!” Tuan Bambang marah besar.

“Cepat ambil kulitnya, dan cincang-cincang dagingnya menjadi kecil-kecil! Setelah itu bawa serpihan dagingnya kembali ke kolam! Biar tahu rasa dia.”

“Baik Tuan.”

Setengah jam kemudian Pak Boye kembali ke kolam buaya itu. Dibantu dua orang membawa beberapa ember daging untuk para buaya. Kemudian daging dalam ember-ember tersebut di sebar ke kolam dan dijadikan rebutan para buaya. Tak berapa lama seluruh daging habis disantap.

“Daging apa ini, Pak Boye? Kok, rasanya keras dan agak pahit? Tumben bukan ayam atau bebek yang kau lemparkan kepada kami,” tanya seekor dari mereka.

“Walau rasanya agak nggak enak, tapi kalian suka kan?” sindir Pak Boye.

“Iya, walau tak seenak ayam dan bebek, tapi sangat mengenyangkan.Itu sudah cukup bagi kami, terima kasih ya, Pak,” jawab buaya tadi.

Sambil membalik tempayan tempat Bicak tersekap, Pak Boye berujar,

“Ketahuilah buaya-buaya bodoh, yang kalian makan tadi adalah senior kalian tadi. Tuan Bambang tak sudi menjadikan buaya terkutuk itu menjadi hidangan tamu restorannya, karena dalam lambungnya ada kucing milik Nona Jelita.”

Hoek, hoek, hoek! Mendadak terjadi muntah masal di kolam itu.

Bicak tertawa terpingkal-pingkal. Sekarang dia bebas. Dan yang lebih penting lagi, buaya sombong, musuhnya, yang telah memerangkapnya dalam tempayan, sekarang gantian di perangkap dalam perut para buaya lainnya. Danang Probotanoyo-2010